Madain Saleh: Rumah Tsamud atau Makam Nabatea?

Al-Hijr dikaitkan dengan Tsamud dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi apakah itu berarti Qasr al-Farid dan setiap fasad batu yang masih berdiri sekarang dibangun oleh kaum Nabi Saleh?

Kesimpulan langsung

Al-Hijr dikaitkan dengan kaum Tsamud dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi, hubungan itu tidak berarti semua fasad batu dan makam yang kini terlihat di Madain Saleh dibangun oleh kaum Tsamud. Makam-makam besar dengan fasad berhias, termasuk Qasr al-Farid dan Qasr al-Bint, menurut bukti arkeologi dan prasasti merupakan peninggalan bangsa Nabatea; sebagian besar berasal dari rentang abad pertama sebelum Masehi sampai abad pertama Masehi. Kesimpulan yang lebih cermat: situs tersebut memiliki sejarah panjang dengan berbagai lapisan peninggalan, dan hubungannya secara keagamaan dengan Tsamud tidak menjadikan seluruh peninggalan yang masih ada sebagai peninggalan Tsamud.

Hubungan kajian ini dengan buku

Penelitian ini mengembangkan halaman 94–96 buku Ahmed Alhafiz, قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق (halaman buku). Buku tersebut menegaskan bahwa keberadaan rumah-rumah yang dipahat merupakan saksi kekuatan sebuah peradaban yang telah berlalu, sekaligus mengingatkan bahwa mayoritas fasad termasyhur yang tersisa di Madain Saleh adalah peninggalan Nabatea, bukan catatan langsung tentang arsitektur Tsamud. Buku menjadi asal pertanyaan dan jalur pemikirannya; penetapan sejarah dan arkeologi di sini didasarkan pada sumber-sumber independen yang dicantumkan di bawah.

Pembedaan yang penting: hubungan suatu tempat dengan Tsamud berbeda dari identitas setiap bangunan yang masih berdiri di dalamnya.

Mengapa terjadi kekeliruan?

Foto-foto Madain Saleh muncul dalam buku, situs perjalanan, dan video dengan sebutan seperti “rumah kaum Tsamud” atau “istana Tsamud”. Lama-kelamaan, pengulangan itu membuatnya terdengar sebagai fakta yang sudah selesai: fasad ini dipahat kaum Tsamud dan makam itu dahulu merupakan salah satu rumah mereka.

Padahal foto lebih sederhana daripada sejarah. Situs yang sama telah ditempati berbagai kelompok dan peradaban pada masa berbeda; seluruh peninggalannya tidak berasal dari satu zaman. Demikian juga kata rumah dalam Al-Qur’an tidak harus sama dengan fungsi setiap bangunan yang dipahat yang sekarang kita lihat. Banyak fasad paling dikenal justru merupakan makam Nabatea dengan tulisan yang memberi petunjuk tanggal, pemilik, dan hak penggunaannya.

Karena itu kita perlu memisahkan tiga pertanyaan:

  • Apakah sumber-sumber Islam menghubungkan Al-Hijr dengan kaum Tsamud?
  • Apakah ada manusia yang tinggal di kawasan itu sebelum bangsa Nabatea?
  • Siapa yang memahat fasad dan makam termasyhur yang masih ada saat ini?

Mencampuradukkan ketiga pertanyaan itulah inti persoalannya.

Apa yang dikatakan Al-Qur’an dan Sunnah tentang Al-Hijr serta Tsamud?

Al-Qur’an menyebut penduduk Al-Hijr dalam Surah Al-Hijr, mengatakan mereka memahat rumah-rumah di gunung dengan rasa aman, kemudian mereka ditimpa suara keras karena mendustakan. Di tempat lain, Al-Qur’an menyebut kaum Tsamud bersama nabi mereka, Saleh, dan menggambarkan pemahatan rumah di pegunungan dalam firman-Nya: ﴿وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ﴾ (Asy-Syu‘ara: 149).

Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ melewati Al-Hijr ketika menuju Tabuk dan melarang para sahabat masuk ke tempat orang-orang yang diazab kecuali dalam keadaan mengambil pelajaran dan menangis. Hadis ini diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar.2

Jadi, terdapat hubungan keagamaan yang jelas antara Al-Hijr dengan kisah kaum yang mendustakan nabi mereka. Tetapi teks agama tidak menyajikan katalog arkeologi yang menyatakan setiap fasad yang kini berdiri di sana berasal dari mereka, dan tidak menentukan tanggal setiap makam atau prasasti yang terlihat. Hal ini tidak mengurangi makna teks; justru mencegah pembebanan klaim arkeologis terperinci yang tidak dinyatakannya.

Apa yang dikatakan peninggalan arkeologi yang terlihat hari ini?

UNESCO mengklasifikasikan situs Al-Hijr, atau Madain Saleh, sebagai situs peradaban Nabatea terpelihara terbesar di sebelah selatan Petra. Makam-makam megah dengan fasad berhias biasanya ditanggal pada rentang abad pertama SM hingga abad pertama M. Menurut UNESCO, situs ini memuat 111 makam monumental, 94 di antaranya berhias.3

Royal Commission for AlUla menggambarkan Hegra sebagai kota utama di selatan Kerajaan Nabatea. Sumber resmi situs tersebut juga menyebut lebih dari seratus makam Nabatea yang terpelihara dan terpahat pada batu.4

Penetapan tersebut tidak hanya berdasarkan kemiripan gaya bangunan. Pada beberapa pintu masuk terdapat prasasti berbahasa Nabatea; sebagian menyebut pemilik makam dan aturan pemakaman, kepemilikan, serta hukuman bagi pelanggar. Ornamen, aksara, dan gaya arsitekturnya juga berhubungan dengan dunia Nabatea yang telah diketahui, hingga Petra di utara.

Karena itu, mayoritas fasad batu terkenal yang sekarang dikunjungi orang di Madain Saleh adalah makam Nabatea, bukan rumah yang telah terbukti secara arkeologis dipahat oleh kaum Tsamud.

Apakah Qasr al-Farid dibangun kaum Tsamud?

Qasr al-Farid merupakan salah satu monumen paling terkenal di Al-Hijr. Nama populernya bisa memberi kesan bangunan istana untuk tempat tinggal, tetapi sebenarnya itu adalah makam Nabatea yang belum selesai, dipahat terpisah pada satu massa batu besar. Keadaannya yang belum selesai memperlihatkan bahwa para pemahat mulai bekerja dari bagian atas fasad lalu bergerak ke bawah.5

Tidak ada bukti arkeologis yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menyatakannya sebagai rumah Nabi Saleh, rumah salah seorang pemimpin Tsamud, atau bangunan tempat keluarnya unta mukjizat. Ini sebutan dan kisah rakyat yang tidak boleh disamakan dengan apa yang dibuktikan oleh prasasti serta penggalian. Hal yang sama berlaku bagi banyak fasad dalam foto: keindahan dan kemegahannya nyata, namun pelajaran moralnya tidak mengharuskan kita menisbatkan suatu peninggalan kepada pihak yang bukan pembuatnya.

Apakah ini berarti Tsamud tidak pernah berada di kawasan tersebut?

Tidak. Menolak atribusi makam Nabatea kepada Tsamud tidak sama dengan menolak hubungan Al-Hijr dengan kaum Tsamud.

Yang lebih tepat ialah mengatakan bahwa kawasan tersebut lebih tua daripada fase Nabatea. UNESCO sendiri mencatat adanya prasasti dan gambar dari masa sebelum Nabatea.3 Namun menemukan peninggalan yang lebih tua tidak serta-merta memberi tahu nama kelompok yang membuatnya, dan tidak menentukan bahwa bangunan tertentu berasal dari kaum Tsamud yang disebut Al-Qur’an.

Di sinilah batas arkeologi tampak. Peneliti dapat mempelajari lapisan hunian, menanggal prasasti, menganalisis tembikar, dan membandingkan gaya arsitektur. Tetapi ia tidak boleh menisbatkan setiap peninggalan tanpa identitas kepada suatu nama keagamaan atau sejarah tanpa petunjuk langsung.

Sebaliknya, tidak tepat menggunakan kenyataan bahwa belum ditemukan bangunan bertuliskan “ini rumah Tsamud” untuk menolak riwayat agama. Pelestarian bukti material dipengaruhi waktu, penggunaan kembali bangunan, erosi, dan keterbatasan apa yang sudah ditemukan sampai hari ini.

Apakah prasasti yang disebut “Tsamudik” merupakan bukti langsung?

Ini salah satu sumber kesalahpahaman terbesar. Pada abad kesembilan belas, para peneliti memakai istilah Thamudic atau “Tsamudik” bagi kelompok-kelompok besar prasasti beraksara Arab Utara Kuno yang belum diklasifikasikan secara teliti. Proyek Oxford untuk prasasti Arabia Utara menjelaskan bahwa nama teknis ini tidak berarti semua prasasti tersebut ditulis anggota suku Tsamud, ataupun berasal dari satu masa atau satu kawasan.6

Karena itu istilah “prasasti Tsamudik” saja tidak cukup membuktikan penulisnya berasal dari kaum Nabi Saleh. Itu adalah nama klasifikasi ilmiah lama untuk suatu kelompok tulisan, bukan kartu identitas etnis yang siap digunakan.

Penjelasan ini mencegah dua kesalahan yang berlawanan: menggunakan prasasti untuk membuktikan rincian yang tidak dikandungnya, atau mengklaim arkeologi bertentangan dengan Al-Qur’an hanya karena istilah arkeologis lebih rumit daripada penggunaannya dalam percakapan populer.

Satu tempat dapat menyimpan sejarah beberapa bangsa

Situs arkeologi bukan foto diam dari satu momen. Sebuah oasis bisa dihuni selama berabad-abad, jalur dagang bergeser, penduduk baru berdatangan, makam-makam digali di dekat bangunan yang lebih tua, dan kemudian kafilah, jemaah haji, serta rel kereta api melintasinya.

Karena itu Al-Hijr adalah catatan di permukaan Bumi yang terdiri dari banyak halaman. Keberadaan makam Nabatea tidak menghapus zaman sebelumnya, dan hubungan suatu tempat dengan Tsamud tidak menghapus apa yang dibangun bangsa Nabatea kemudian. Kekeliruan muncul ketika semua lapisan ini dipaksa masuk ke dalam satu nama dan satu zaman.

Gagasan ini dekat dengan metode buku قل سيروا في الأرض: berjalan di muka Bumi bukan mencari gambar untuk mengukuhkan sesuatu yang telah kita putuskan lebih dahulu, melainkan berlatih membaca peninggalan secara jujur dan membedakan pengamatan, tafsir, serta kesimpulan.

Bagaimana arkeolog mengetahui makam-makam itu berasal dari Nabatea?

Penanggalan tidak bergantung pada kesan visual atau asumsi bahwa setiap ukiran yang serupa dibuat oleh bangsa sama. Beberapa petunjuk saling menguatkan: tulisan pada sebagian fasad; nama pemilik makam; rumusan hak milik dan larangan; bentuk huruf Nabatea; gaya mahkota dan fasad; temuan serta konteks arsitekturnya; dan perbandingan dengan bangunan yang sudah ditanggal di situs lain di dunia Nabatea. Ketika petunjuk itu sejalan, pengaitan sebuah makam dengan masa Nabatea menjadi lebih kuat daripada kisah yang beredar.

Prasasti memperlihatkan bahwa sebuah fasad tidak selalu merupakan “istana” untuk dihuni. Sebagiannya menentukan siapa yang berhak dimakamkan, siapa yang dilarang membuka atau menjual makam, dan akibat pelanggaran. Itu fungsi pemakaman sekaligus hukum yang jelas. Maka nama populer seperti “Qasr al-Farid” bermanfaat untuk mengenali monumen, tetapi tidak menentukan fungsi historis atau pemiliknya.

Peninggalan yang lebih tua membutuhkan kehati-hatian yang sama. Kehadiran prasasti atau gambar batu pra-Nabatea membuktikan aktivitas manusia yang lebih dahulu, tetapi tidak secara otomatis memberi nama kelompok tersebut. Bahasa, gaya tulisan, tempat penemuan, dan konteks geologis dapat membantu mempersempit kemungkinan. Namun jika tanggal tegas atau nama yang dapat diperiksa tidak tersedia, atribusinya tetap terbuka. Itu bukan kelemahan ilmu, melainkan pengakuan jujur terhadap keterbatasan material yang tersisa.

Apakah pelajaran moral berubah jika fasad-fasad itu ternyata Nabatea?

Pelajaran moral tidak bergantung pada apakah foto populer memperlihatkan tepat bangunan yang dilihat kaum Saleh. Ayat menyampaikan kisah suatu kaum yang memahat rumah di pegunungan, namun kekuatan mereka tidak mampu melindungi dari akibat perbuatan mereka. Kunjungan modern ke situs yang telah dilalui berbagai peradaban menambahkan makna lain: manusia belakangan bisa membangun di atas bekas pendahulunya, lalu bangunannya sendiri menjadi lapisan yang dibaca oleh generasi sesudahnya.

Masalah dimulai ketika kita menjadikan kekuatan nasihat agama bergantung pada atribusi suatu monumen tanpa bukti. Akibatnya, ketika pembaca mengetahui Qasr al-Farid berasal dari Nabatea, ia mungkin secara keliru mengira penemuan itu membantah hubungan Al-Hijr dengan Tsamud atau melemahkan ayat. Jika kita memisahkan teks, identifikasi tempat, dan penanggalan setiap bangunan, pelajaran tetap utuh dan penelitian arkeologi pun tetap cermat.

Dengan demikian, berjalan di muka Bumi adalah praktik pengetahuan sekaligus etika: kita melihat peninggalan, bertanya siapa pembuatnya, kapan, dan untuk tujuan apa, mengungkap kadar kepastian, kemudian mengambil pelajaran. Kita tidak memulai dari kesimpulan lalu memaksa batu menguatkannya; kita juga tidak menjadikan apa yang belum ditemukan sebagai alasan untuk mengisi kekosongan dengan cerita apa saja.

Apa yang kita ketahui, dan apa yang belum kita ketahui?

Persoalan Tingkat kesimpulan
Hubungan Al-Hijr dengan kisah Tsamud dalam Al-Qur’an dan Sunnah Ditegaskan sumber-sumber Islam
Adanya sejarah manusia di kawasan itu sebelum Nabatea Didukung prasasti dan peninggalan sebelum fase Nabatea
Atribusi makam-makam termasyhur yang berhias kepada Nabatea Didukung kuat oleh prasasti, penanggalan, dan gaya arsitektur
Anggapan bahwa Qasr al-Farid merupakan rumah Tsamud Tidak terbukti
Anggapan bahwa setiap prasasti yang dinamai “Tsamudik” ditulis kaum Saleh Keliru dari sisi metode
Identifikasi setiap bangunan yang dipahat kaum Tsamud di situs sekarang Tidak tersedia melalui bukti arkeologi yang ada

Jawaban akhir

Al-Hijr adalah tempat yang dikaitkan dengan Tsamud dalam sumber Islam. Namun peninggalan yang menonjol dan masih tersisa di Madain Saleh tidak seluruhnya berasal dari Tsamud. Kebanyakan makam dan fasad terkenal berasal dari Nabatea, dengan masa yang lebih kemudian, sedangkan kawasan tersebut juga menyimpan prasasti serta peninggalan dari beragam masa lebih awal. Maka identitas tempat dalam ingatan keagamaan harus dibedakan dari sejarah tiap bangunan yang ada di dalamnya.

Pembedaan ini tidak melemahkan pelajaran Al-Qur’an, melainkan melindunginya agar tidak bergantung pada atribusi arkeologis yang salah. Maksud perjalanan dan pengamatan bukan menjadikan setiap batu sebagai pembenaran atas hal yang kita inginkan, melainkan membaca apa yang tersisa dari Bumi dengan amanah, lalu mengambil pelajaran tentang kekuasaan, kefanaan, dan tanggung jawab manusia.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Madain Saleh sama dengan Al-Hijr yang disebut Al-Qur’an?

Tradisi Islam menghubungkan Al-Hijr dengan Tsamud, dan situs arkeologi Hegra yang dikenal sebagai Madain Saleh terletak di kawasan yang sama. Tetapi kesamaan lokasi tidak membuat setiap bangunan yang tersisa berasal dari zaman Tsamud.

Apakah Qasr al-Farid salah satu rumah Tsamud?

Tidak ada bukti arkeologis untuk itu. Qasr al-Farid adalah makam Nabatea yang belum selesai. Gaya dan fase pemahatannya berkaitan dengan makam Nabatea di Hegra.

Mengapa sebagian prasasti disebut Tsamudik?

Tsamudik merupakan nama klasifikasi lama bagi sejumlah kelompok prasasti Arabia Utara sebelum penggolongannya dipertegas. Nama itu sendiri tidak membuktikan setiap penulisnya berasal dari kaum Tsamud dalam Al-Qur’an.

Apakah temuan arkeologi menolak keberadaan Tsamud di kawasan itu?

Tidak. Penanggalan makam yang tampak kepada bangsa Nabatea tidak menafikan sejarah kawasan yang lebih tua ataupun hubungan Al-Hijr dengan Tsamud dalam sumber-sumber Islam. Hal tersebut hanya mencegah kita menisbatkan setiap monumen yang ada kepada Tsamud tanpa bukti langsung.

Sumber

  1. Al-Qur’an, Al-Hijr: 80–84; Asy-Syu‘ara: 149.
  2. Hadis Abdullah bin Umar mengenai penduduk Al-Hijr, Shahih Al-Bukhari no. 4702, juga diriwayatkan Muslim no. 2980 dengan sedikit perbedaan redaksi.
  3. UNESCO World Heritage Centre, Hegra Archaeological Site; keputusan pencantuman 32 COM 8B.19.
  4. Royal Commission for AlUla, About AlUla; misi arkeologi Prancis di Hegra.
  5. CNRS Images, Qasr al-Farid; Saudipedia, Al-Hijr (Madain Saleh) (tautan asli: https://saudipedia.com/الحجر-مدائن-صالح).
  6. OCIANA, University of Oxford, “Thamudic”.

Transparansi bukti: Lampiran klaim dan bukti, atau unduh BibTeX dan RIS.

Lanjutkan jalur peradaban dan metode: Mengapa peradaban tumbuh dan runtuh?; cara membedakan ayat, tafsir, dan bukti. Halaman buku menghimpun penelitian yang terinspirasi dari قل سيروا في الأرض.

Temukan buku dan tema-temanya · Seluruh penelitian