Kajian rujukan · Agama dan sains · Tafsir dan waktu kosmis
Penciptaan Langit dan Bumi dalam 6 Hari: Berapa Lama?
Penciptaan langit dan bumi dalam enam hari: pandangan para mufasir tentang lamanya satu “hari”, perhitungan dalam Surah Fussilat, dan apa yang dapat dibuktikan oleh pengetahuan tentang usia alam semesta tanpa memaksakan kecocokan.
Oleh Ahmed Alhafiz. Versi artikel Arab 3.0. Artikel Arab terbit: 1 September 2026. Peninjauan sumber artikel Arab terakhir: 30 September 2026. Perkiraan waktu baca: 15 menit.
Jawaban Sebelum Memasuki Pembahasan
Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; itulah keterangan tegas Al-Qur'an yang kami imani. Persoalan yang memerlukan penelaahan bukanlah apakah penciptaan berlangsung dalam enam hari, melainkan berapa lama “hari” yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut, dan apakah lamanya dapat ditetapkan dengan satuan waktu yang kita kenal. Ayat-ayat penciptaan tidak menetapkan durasi masing-masing hari, sementara para mufasir menyampaikan lebih dari satu pendapat. Karena itu, kita tidak boleh begitu saja menyamakan kata “hari” dengan dua puluh empat jam tanpa dalil, ataupun memilih durasi astronomis hanya karena sesuai dengan perhitungan kita.
Para kosmolog memperkirakan usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun melalui model yang bertumpu pada sejarah pemuaian alam semesta, radiasi latar belakang kosmis, dan komposisinya. Angka ini menggambarkan rentang waktu yang dihitung sejak fase awal pemuaian panas dalam model tersebut; bukan terjemahan kata “hari” dalam ayat-ayat penciptaan. Membagi 13,8 miliar dengan enam tidak menghasilkan durasi satu hari menurut Al-Qur'an, sebagaimana ayat tentang enam hari juga tidak menyediakan persamaan untuk menghitung usia alam semesta.
Persoalan ini berangkat langsung dari bab pertama, halaman 25–35, buku Ahmed Alhafiz «قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق». Buku tersebut membahas kekuasaan Allah dan hukum-hukum keteraturan ciptaan, hari-hari penciptaan, ayat-ayat yang menyebut durasi hari yang berlainan, hadis tentang Dajjal, serta batas penggunaan teori relativitas sebagai bahan perbandingan. Di sini kita menguji argumentasinya sejauh yang dimungkinkan oleh teks-teks tafsir dan pengukuran astronomi, lalu menjelaskan mana yang dapat dinyatakan dengan pasti dan mana yang tetap menjadi pertanyaan terbuka.
Mengapa Justru Enam Hari yang Disebutkan?
Allah berfirman: ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ... أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ﴾ [Al-A'raf: 54]. Maknanya, Tuhanmulah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ber-istiwa di atas Arasy; ketahuilah, penciptaan dan perintah adalah milik-Nya. Dalam Surah Qaf: ﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ﴾ [Qaf: 38]. Maknanya, sungguh Kami menciptakan langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya dalam enam hari tanpa ditimpa keletihan sedikit pun. Keterangan serupa muncul dalam Yunus: 3, Hud: 7, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4, dan Al-Hadid: 4.
Surah Al-A'raf mengarahkan pendengar kepada kedaulatan dan perintah Sang Pencipta; Surah Hud menghubungkan penciptaan dengan ujian, lalu kebangkitan; sedangkan Surah Qaf menolak anggapan bahwa proses penciptaan yang berlangsung dalam suatu rentang waktu disebabkan Allah mengalami kelelahan. Ath-Thabari ketika menafsirkan Hud: 7 memahami penciptaan sebagai argumentasi tentang kuasa Allah menghidupkan kembali manusia sesudah mati. Ketika Allah berfirman ﴿وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ﴾, Dia secara tegas menafikan keletihan; maka penyebutan hari-hari itu tidak boleh disamakan dengan pekerjaan manusia yang memerlukan istirahat. Kita juga mengimani apa yang Dia kabarkan melalui firman-Nya ﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾, tanpa mengubah ayat itu menjadi uraian tentang gerak benda langit atau mekanisme fisika.
Ayat-ayat tersebut bertujuan meneguhkan keimanan kepada kekuasaan dan kedaulatan Allah; maksudnya melampaui sekadar perhitungan durasi waktu.
Pertanyaan “Mengapa Dia tidak menciptakannya dalam sekejap?” mengandaikan bahwa lamanya proses menandakan ketidakmampuan. Pada halaman 25–28, buku tersebut menjawab anggapan ini dari dalam Al-Qur'an sendiri: ﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ [Yasin: 82] menegaskan bahwa kehendak-Nya pasti terlaksana, sedangkan penyebutan hari-hari menjelaskan bahwa penciptaan terjadi menurut ketetapan. Kemampuan menciptakan tanpa proses bertahap tidak mengharuskan setiap makhluk benar-benar diciptakan tanpa tahapan.
Ketika Al-Qurthubi dalam tafsir Al-A'raf: 54 menyebut di antara hikmahnya adalah mengajarkan sikap tidak tergesa-gesa dan memperlihatkan kekuasaan secara bertahap, ia sedang memberikan penalaran tafsir yang bersifat ijtihadi, bukan dalil pasti bahwa itulah satu-satunya hikmah. Pertanyaan tentang kekuasaan dan hikmah Sang Pencipta berbeda dari pertanyaan tentang lamanya suatu waktu ciptaan; jawaban untuk yang satu tidak dapat menggantikan pembuktian bagi yang lain.
Pokok ini menyentuh langsung tesis buku: bagi orang beriman, keberadaan sebab dan tahapan tidak menjadikan hukum-hukum keteraturan alam terlepas dari Allah; mengetahui sebab-sebab juga tidak meniadakan pertanyaan tentang penciptaan dan tujuannya. Namun keimanan terhadap gagasan itu tidak memberi kita alat ukur bagi lamanya enam hari tersebut; angka waktu tidak bisa ditarik begitu saja dari argumentasi akidah.
Apa Itu Hari yang Kita Kenal, dan Hari Apa yang Dimaksud Ayat?
Dalam sistem waktu modern, satu hari dibagi menjadi dua puluh empat jam; sedangkan hari matahari dalam pemakaian sehari-hari berkaitan dengan pergantian siang dan malam serta gerak Bumi. Secara prinsip, seseorang dapat mengukur rentang waktu sebelum Bumi ada dengan satuan waktu Bumi yang kita kenal sekarang. Karena itu, keberatan yang terlampau mudah—“Bumi belum ada, jadi mustahil ayat itu berarti 24 jam”—tidak tepat. Akan tetapi, teks juga tidak mengatakan “enam putaran Bumi” dan tidak memberikan petunjuk yang mengharuskan pengukuran tersebut.
Al-Qur'an juga menyebut hari-hari dengan durasi berlainan menurut konteksnya. Allah berfirman: ﴿وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ﴾ [Al-Hajj: 47], yang maknanya bahwa satu hari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitungan manusia. Ayat lain menggambarkan naiknya urusan dalam satu hari yang ukurannya seribu tahun [As-Sajdah: 5], dan menyebut naiknya para malaikat serta Ruh dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun [Al-Ma'arij: 4]. Perbedaan konteks ini menggugurkan klaim bahwa setiap pemakaian kata hari mesti berarti 24 jam. Namun hal itu tidak membuktikan bahwa hari-hari penciptaan adalah hari-hari yang disebutkan dalam salah satu ayat tersebut. Kesamaan sebutan tidak otomatis memindahkan durasinya dari satu ayat ke ayat lain.
Khazanah tafsir sendiri tidak berbicara dengan satu suara. Ath-Thabari ketika membahas Hud: 7 memuat sejumlah riwayat tentang hari Ahad hingga Jumat, dan menukil pendapat Adh-Dhahhak bahwa hari-hari itu “termasuk hari-hari akhirat, yang masing-masing lamanya seribu tahun”. Al-Qurthubi ketika menafsirkan Al-A'raf: 54 juga menukil pendapat tentang hari-hari yang dikenal dan tentang hari-hari akhirat. Menukil suatu pendapat tidak sama dengan mengesahkan atau mengunggulkannya. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menisbatkan pendapat seribu tahun kepada seluruh mufasir, ataupun mengklaim mereka sepakat bahwa enam hari itu adalah hari-hari Bumi.
Yang pasti adalah jumlahnya; sedangkan durasi satu hari dalam pembahasan ini tidak terselesaikan hanya dengan menukil pendapat-pendapat tersebut. Mengakui batas pengetahuan merupakan sikap hormat terhadap teks: kita tidak menambahkan angka hanya karena angka itu kita sukai, dan tidak menolak apa yang telah ditegaskannya hanya karena panjang waktunya tidak diperinci.
Hadis tentang Hari yang Seperti Setahun: Bukti Kemungkinan, Bukan Kunci Menghitung Penciptaan
Dalam Shahih Muslim, hadis An-Nawwas bin Sam'an, pada riwayat tentang Dajjal disebutkan: «يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم»—satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian. Para sahabat bertanya apakah salat sehari sudah mencukupi pada hari yang seperti setahun. Jawabannya: «لا، اقدروا له قدره»—tidak, perkirakanlah waktunya sebagaimana mestinya. Hadis ini membicarakan waktu khusus dan aturan salat di dalamnya; ia menunjukkan bahwa sebutan “hari” dalam sebuah berita keagamaan tidak selalu mengharuskan durasi yang lazim dibayangkan penanya.
Pada halaman 30 buku tersebut, Ahmed Alhafiz menggunakan hadis ini dalam batasan tadi, dan pada halaman 31 menegaskan bahwa hadis itu bukan dalil langsung tentang lamanya hari-hari penciptaan. Ketelitian ini penting: tahun yang disebut dalam kisah Dajjal tidak boleh dipindahkan ke awal alam semesta, sebagaimana perintah «اقدروا له قدره» tidak boleh diperlakukan sebagai persamaan astronomi. Pelajarannya ialah bahwa penentuan durasi suatu hari memerlukan konteksnya, bukan sekadar katanya.
Bagaimana Perhitungan Enam Hari dalam Surah Fussilat Dipahami?
Al-Qur'an memaparkan rincian dalam Surah Fussilat: penciptaan Bumi dalam dua hari [41:9]; kemudian disebutkan gunung-gunung yang kokoh, keberkahan, dan penetapan rezeki-rezekinya ﴿فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ﴾, yakni “dalam empat hari” [41:10]; lalu penyempurnaan tujuh langit dalam dua hari [41:12]. Penjumlahan cepat 2 + 4 + 2 = 8 mengandaikan bahwa empat hari itu merupakan periode baru yang seluruhnya ditambahkan sesudah dua hari pertama. Justru anggapan inilah yang perlu diperiksa, bukan sebuah angka tambahan yang dinyatakan secara eksplisit oleh ayat.
Ath-Thabari dalam tafsir Fussilat: 10 menjelaskan bahwa empat hari itu sudah mencakup dua hari yang disebutkan lebih dahulu: penciptaan Bumi beserta segala yang ada padanya selesai dalam empat hari seluruhnya, kemudian dua hari untuk langit, sehingga jumlahnya enam. Pemakaian ungkapan semacam itu dapat digambarkan dengan kalimat: “Saya menyelesaikan fondasi dalam dua hari, dan seluruh bangunan selesai dalam empat hari”; empat hari tersebut dihitung sejak pekerjaan dimulai. Al-Qurthubi pada ayat yang sama juga menjelaskan pengertian “genap empat hari” dengan contoh dalam bahasa Arab.
Itulah jawaban kebahasaan dan aritmetika terhadap keberatan tentang delapan hari; bukan penyelesaian bagi setiap persoalan ilmiah mengenai urutan terbentuknya benda-benda langit. Planet Bumi yang kita kenal tidak terbentuk pada saat pertama alam semesta, sementara ungkapan Al-Qur'an dalam Surah Fussilat memiliki konteks tafsirnya sendiri. Siapa pun yang ingin menyamakan hari pertama dengan pembentukan Bumi dan dua hari terakhir dengan kelahiran bintang-bintang tertentu memerlukan bukti tambahan yang tidak tersedia hanya dari persamaan 2 + 2 + 2.
Ada pertanyaan berdekatan yang layak dijawab tersendiri: Surah Fussilat lebih dahulu menyebut penciptaan Bumi, lalu berfirman ﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ﴾—kemudian Dia menuju langit ketika masih berupa asap. Sebaliknya, An-Nazi'at: 27–33 menguraikan pembangunan langit, lalu menyatakan ﴿وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا﴾—dan setelah itu Bumi dihamparkan-Nya. Ath-Thabari dalam tafsir An-Nazi'at: 30 membedakan awal penciptaan Bumi dari penghamparannya serta dikeluarkannya air dan tumbuh-tumbuhannya. Ibnu Katsir juga mengemukakan cara memadukan kedua uraian itu. Ini adalah jawaban tafsir tentang urutan dua ungkapan, bukan garis waktu pengamatan astronomis mengenai pembentukan planet Bumi.
NASA menyebut bahwa Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, yakni lebih dari sembilan miliar tahun setelah awal usia alam semesta yang diperkirakan. Oleh karena itu, sulit menerima gambaran yang menempatkan planet Bumi yang telah terbentuk sepenuhnya sebelum sejarah alam semesta yang teramati atau sebelum bintang-bintang yang mendahuluinya. Siapa pun yang hendak menghubungkan secara terperinci urutan dalam Surah Fussilat dengan rangkaian peristiwa astronomi harus menjelaskan makna “Bumi” dan “langit” serta tahap yang dimaksud, kemudian memberikan bukti bagi pilihannya. Tidak cukup sekadar menyatakan bahwa sains telah “membuktikan” suatu urutan dalam ayat-ayat itu.
Bagaimana Sains Menentukan Usia Alam Semesta Sebesar 13,8 Miliar Tahun?
Usia itu bukan angka yang ditangkap teleskop dari sebuah “jam” yang tergantung di langit. Para peneliti berangkat dari laju perubahan skala kosmis, jumlah materi, radiasi, dan energi dalam model, serta rincian radiasi latar belakang gelombang mikro yang menyimpan jejak alam semesta awal yang panas. Parameter model disesuaikan dengan pengamatan, lalu sejarahnya dihitung mundur. Dalam uraian tentang sejarah alam semesta, NASA menyebut usia sekitar 13,8 miliar tahun. Badan Antariksa Eropa (ESA), melalui hasil awal misi Planck, juga melaporkan taksiran yang berdekatan dalam model standar.
Karena laju pemuaian berubah sepanjang sejarah, membalik nilai laju pemuaian alam semesta saat ini saja tidak cukup untuk memperoleh usia yang akurat. Perhitungan harus memperhitungkan komposisi alam semesta dan perkembangan laju pemuaiannya menurut model tersebut.
Angka ini memiliki kekuatan ilmiah sekaligus batas. Kekuatannya terletak pada fakta bahwa ia tidak berasal dari kesan subjektif tentang luasnya langit, melainkan dari penyesuaian data terukur dengan model yang mampu menjelaskan lebih dari satu gejala. Batasnya: angka tersebut adalah perkiraan yang bergantung pada ketepatan model dan keterbatasan pengukurannya. Ia sendiri tidak menjawab apakah pernah ada tahap yang lebih awal, atau memutuskan persoalan metafisika apakah seluruh keberadaan bermula dari ketiadaan mutlak. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tidak menjadikan usia alam semesta enam ribu tahun, dan juga tidak memberi ilmuwan kemampuan untuk mengonversi ayat-ayat menjadi satuan jam.
Pembaca mungkin tergoda membagi 13,8 miliar tahun dengan enam, lalu memperoleh 2,3 miliar tahun untuk setiap hari. Secara matematika perhitungannya benar, tetapi tidak memiliki landasan dalam teks ataupun pengamatan. Ayat-ayat penciptaan tidak menentukan lamanya hari dalam satuan tahun; tidak pula menyatakan bahwa usia alam semesta hasil perhitungan sama persis dengan jumlah durasi hari-hari itu. Model kosmologi juga tidak menyajikan enam tahap yang masing-masing dapat diamati dan memiliki panjang seragam 2,3 miliar tahun. Jika estimasi usia itu kelak diperbaiki, hasil pembagiannya ikut berubah, sedangkan bunyi ayat tidak berubah karenanya.
Kita mesti membedakan usia alam semesta yang dihitung dalam model ilmiah, durasi hari-hari penciptaan yang tidak ditetapkan teks, serta ukuran hari di sisi Allah dalam ayat-ayat lain. Menyatukan ketiganya dalam satu operasi perkalian membuat pembaca seolah-olah telah memperoleh tafsir keagamaan sekaligus bukti astronomis, padahal tidak memperoleh keduanya.
Sekalipun seorang pembaca menerima pendapat tafsir yang dinukil bahwa setiap hari penciptaan berlangsung seribu tahun, pendapat itu tidak otomatis menjadi pengukuran astronomi yang menggugurkan atau menerangkan estimasi 13,8 miliar tahun. Tidak ada bukti bahwa kedua bilangan membicarakan rentang yang sama, ataupun bahwa seribu tahun dapat diubah menjadi satu miliar. Jika pembaca lain menyebut enam zaman kosmis, pertanyaannya: enam zaman yang mana? Sejarah alam semesta dalam model ilmiah tidak datang kepada kita dalam enam tahap pengamatan yang batas masing-masingnya pasti bertepatan dengan batas satu hari Qurani. Sebagian perubahan di alam semesta awal berlangsung sangat singkat, sementara pembentukan bintang dan galaksi terus terjadi dalam rentang yang panjang.
Menamai enam tahap setelah melihat hasil penelitian mungkin berguna untuk pengajaran, tetapi itu bukan penemuan ilmiah tentang lamanya hari-hari tersebut. Ukuran yang kita gunakan di sini adalah menuntut bukti hubungan sebelum memasukkan angka ke dalam penafsiran teks.
Tidak semua bagian dari perkiraan ilmiah berada pada tingkat kepastian yang sama. Keberadaan radiasi latar belakang gelombang mikro dan pemuaian ruang termasuk hasil pengamatan; sedangkan penarikan angka usia yang tepat dari pengamatan itu memerlukan model dan asumsi tentang isi alam semesta. Peneliti berhak menguji asumsi dan meninjau ulang hasilnya, tetapi tidak berhak menghapus fakta pengamatan hanya karena tidak sesuai dengan tafsir yang lebih dahulu dipilihnya. Sebaliknya, ia berhak mendiskusikan makna “hari” bersama para mufasir, tetapi tidak berhak mengumumkan bahwa persamaan usia alam semesta telah menyelesaikan perbedaan mereka dalam bahasa. Dengan demikian, setiap pertanyaan tetap memiliki tolok ukur pengujiannya sendiri, bukan saling menutup kekosongan dengan jawaban dari bidang lain.
Apa yang Dijelaskan Relativitas tentang Waktu, dan Apa yang Tidak Ditentukannya?
Dalam lingkup penerapan fisikanya, relativitas menunjukkan bahwa pengukuran selang waktu dipengaruhi gerak dan gravitasi. Lembaga standar Amerika Serikat, NIST, menjelaskan bagaimana jam atom digunakan untuk menguji akibat-akibat tersebut. Namun ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa “hari” dalam ayat penciptaan adalah waktu yang diukur di dekat lubang hitam, atau bahwa angka ribuan tahun yang disebut dalam Al-Hajj dan As-Sajdah merupakan hasil dilatasi waktu menurut persamaan Einstein. Klaim demikian memerlukan penentuan pengamat, lintasan, dan kondisi fisika, lalu bukti bahwa teks memang bermaksud merujuk pada hal itu. Kemiripan kata “waktu” dan “hari” saja tidak memberikan bukti tersebut.
Pada halaman 31 buku «قل سيروا في الأرض», relativitas disebutkan untuk mengajak pembaca bersikap rendah hati terhadap gambaran kita yang sederhana tentang waktu; buku itu kemudian dengan jelas menolak menjadikan ayat-ayat sebagai penjelasan bagi persamaan fisika. Itu penggunaan analogi intelektual secara terkendali, bukan pembuktian tentang lamanya hari-hari penciptaan. Untuk pembahasan lebih jauh mengenai perbedaan antara ayat seribu tahun, lima puluh ribu tahun, dan persoalan pengukuran, bacalah Apakah Satu Hari di Sisi Allah Setara dengan Seribu atau Lima Puluh Ribu Tahun?.
Perbedaannya halus tetapi mendasar: apabila dua jam atom di ketinggian berbeda mengukur selang waktu yang sedikit berlainan, kita telah menguji suatu prediksi fisika yang spesifik. Pengujian itu tidak menjawab apa hakikat hari yang disebut Surah Qaf, ataupun bagaimana dan untuk apa Allah bertindak. Keyakinan bahwa penciptaan adalah milik Allah juga tidak bergantung pada ketidakmampuan fisikawan menghitung usia alam semesta. Seandainya perhitungannya menjadi lebih tepat esok hari, makna ayat tidak akan otomatis berubah. Sikap ini menjaga pemikiran agama agar tidak bersandar pada celah pengetahuan ilmiah, sekaligus menjaga penelitian ilmiah dari tuntutan untuk mengeluarkan putusan yang tidak berada dalam jangkauan alat-alatnya.
Apa yang Dapat Kita Tegaskan, dan Apa yang Belum Bisa Kita Pastikan?
Orang beriman dapat menegaskan penciptaan dalam enam hari, memahami di dalamnya ketetapan dan kekuasaan, serta menyelidiki sejarah alam semesta yang luas dengan perangkat ilmu pengetahuan. Ia tidak dituntut mengabaikan pengamatan, ataupun menentukan panjang hari dengan semacam pemungutan suara di antara ayat-ayat berbeda. Kekuatan buku «قل سيروا في الأرض» pada bagian ini adalah menghubungkan pertanyaan tentang waktu dengan sebab-sebab dan hukum-hukum keteraturan, tanpa mengklaim bahwa persamaan Friedmann atau teori relativitas menjelaskan arti kata dalam ayat.
Akan tetapi, slogan yang lazim terdengar bahkan dalam wacana pembelaan perlu dikoreksi: pernyataan “sains telah membuktikan bahwa enam hari itu adalah enam zaman kosmis” melampaui bukti yang ada. Begitu pula pernyataan “usia alam semesta pasti bertentangan dengan Al-Qur'an” menggantungkan kepastian pada anggapan yang belum diputuskan, yaitu bahwa hari di sini harus berarti dua puluh empat jam. Sekalipun seorang mufasir memilih pemahaman itu, ia tetap perlu memaparkan alasannya dan menjelaskan bagaimana durasi ditentukan sebelum menyatakan pertentangan. Lagi pula, pendapat seorang mufasir tidak otomatis memiliki tingkat kepastian yang sama dengan bunyi ayat itu sendiri.
Pada halaman 33–34, buku tersebut merangkai perjalanan, perenungan, ilmu, niat, dan petunjuk. Dalam persoalan kita, susunan itu memiliki makna praktis: mengamati langit mengajarkan kepada kita apa yang ditunjukkan pengukuran; kembali kepada tafsir menjernihkan apa yang pernah dan tidak pernah dikatakan para ulama; kemudian kerendahan hati mencegah kita mengisi kekosongan satu bidang dengan jawaban pinjaman dari bidang lain. Dari sinilah bermula cara membaca yang sanggup menerima penemuan baru tanpa harus mendefinisikan ulang hari penciptaan setiap kali ilmu berkembang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Enam Hari Itu Hari Bumi yang Masing-Masing Berlangsung 24 Jam?
Kita mengimani bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari sebagaimana dikabarkan-Nya. Namun menetapkan masing-masing hari sebagai dua puluh empat jam, seribu tahun, atau satu zaman astronomis tertentu tidak dapat dibuktikan hanya dari kemunculan kata “hari-hari”.
Apakah Al-Qur'an Menyatakan Satu Hari Penciptaan Sama dengan Seribu Tahun?
Ayat-ayat tentang enam hari tidak menyebut durasi itu. Ayat-ayat lain menyebut satu hari seperti seribu tahun dalam konteks berbeda, dan Surah Al-Ma'arij menyebut satu hari sepanjang lima puluh ribu tahun. Ada pula pendapat tafsir yang dinukil mengenai seribu tahun untuk hari-hari penciptaan, tetapi pendapat tersebut bukan kesepakatan semua ulama maupun persamaan yang mengikat.
Bagaimana Memahami Dua Hari, Empat Hari, dan Dua Hari dalam Surah Fussilat?
Jumlahnya enam. Empat hari pada Fussilat: 10 sudah mencakup dua hari penciptaan Bumi pada ayat 9; setelah itu ditambahkan dua hari bagi langit. Penafsiran ini disebut oleh Ath-Thabari dan Al-Qurthubi, tanpa perlu mengada-adakan dua hari tambahan.
Apakah Angka 13,8 Miliar Tahun Membatalkan Iman kepada Penciptaan?
Angka itu sendiri tidak menentukan putusan atas persoalan akidah; ia adalah perkiraan sejarah alam semesta dalam suatu model astronomi. Angka tersebut juga tidak menetapkan jumlah tahun untuk tiap hari penciptaan. Karena itu, perbandingan angka saja tidak cukup untuk membuktikan pertentangan ataupun kecocokan.
Apakah Hadis tentang Dajjal Membuktikan Hari-Hari Penciptaan Sangat Panjang?
Hadis itu bukan bukti mengenai durasinya. Ia menunjukkan bahwa hari yang disebut dalam teks agama dapat memiliki lama yang berbeda dalam konteks khusus, dan memerintahkan penaksiran waktu salat pada hari tersebut. Persoalan hari-hari penciptaan harus ditelaah melalui ayat-ayatnya dan tafsirnya.
Sumber yang Menjadi Dasar Kajian
Al-Qur'an: Al-A'raf: 54, Qaf: 38, Fussilat: 9–12, Al-Hajj: 47, As-Sajdah: 5, dan Al-Ma'arij: 4.
Ath-Thabari, tafsir Hud: 7, tentang hubungan penciptaan dengan kebangkitan serta pendapat-pendapat yang dinukil mengenai durasi satu hari.
Al-Qurthubi, tafsir Al-A'raf: 54, tentang pendapat mengenai hari-hari dunia dan akhirat serta hikmah-hikmah yang dikemukakan melalui ijtihad.
Ath-Thabari, tafsir Fussilat: 10, dan Al-Qurthubi pada ayat yang sama, tentang empat hari yang sudah mencakup dua hari sebelumnya.
Shahih Muslim, riwayat Dajjal, hadis 2937a, tentang hari yang seperti setahun dan penaksiran waktu salat.
NASA Science, sejarah alam semesta, tentang perkiraan usia dan tahap-tahap alam semesta awal.
ESA, hasil misi Planck, tentang perkiraan usia alam semesta berdasarkan radiasi latar belakang dalam suatu model.
NIST, pengujian relativitas menggunakan jam atom, mengenai perubahan laju waktu yang terukur akibat gerak dan gravitasi.
Ath-Thabari, tafsir An-Nazi'at: 30, mengenai perbedaan penciptaan Bumi dan penghamparannya; serta NASA Science, pembentukan Bumi, mengenai sejarah terbentuknya planet ini.
Untuk pengantar yang mendahului bahasan ini dalam bab yang sama, baca Apakah Ratq dan Fatq Merujuk pada Big Bang?, kemudian halaman buku dan rangkaian kajiannya.
Batasan Edisi Ini
Tulisan ini merupakan kajian independen yang dipimpin Ahmed Alhafiz, bukan penelitian akademis yang telah melalui proses telaah sejawat. Teks, sumber, dan susunan argumentasi telah ditinjau secara internal; penelaahan eksternal independen oleh pakar tafsir atau kosmologi belum selesai.
Cara Mengutip
Ahmed Alhafiz, “Allah Menciptakan Langit dan Bumi dalam Enam Hari: Makna ‘Hari’ dan Batas Perbandingannya dengan Usia Alam Semesta”, edisi 3.0, 30 September 2026.
Kajian ini memperluas bab pertama Qul Sīrū fī al-Arḍ Fanẓurū Kayfa Bada’a al-Khalq. Buku adalah asal pertanyaan; sumber-sumber yang dicantumkan menjadi dasar pemeriksaan klaim umum.
Makna Kutipan Arab dalam Artikel Ini
Terjemahan penjelas berikut disusun untuk membantu pembacaan naskah ini, bukan kutipan dari satu edisi terjemahan resmi. Lafaz Arab tetap dipertahankan; perbedaan tafsir dan batas perbandingan ilmiah dijelaskan dalam artikel.
Al-A‘raf 7:54 (kutipan)
﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ... أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ﴾Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ber-istiwa di atas Arasy … Ketahuilah, penciptaan dan perintah adalah milik-Nya.
Qaf 50:38
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ﴾Sungguh, Kami menciptakan langit, bumi, dan yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan Kami tidak ditimpa keletihan sedikit pun.
Qaf 50:38 (kutipan)
﴿وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ﴾Kami tidak ditimpa keletihan sedikit pun.
Al-A‘raf 7:54 (kutipan)
﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾Kemudian Dia ber-istiwa di atas Arasy.
Yasin 36:82
﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾Apabila Dia menghendaki sesuatu, perintah-Nya hanyalah mengatakan kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia.
Al-Hajj 22:47 (kutipan)
﴿وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ﴾Sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian.
Fussilat 41:10 (frasa)
﴿فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ﴾Dalam empat hari.
Fussilat 41:11 (kutipan)
﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ﴾Kemudian Dia ber-istiwa menuju langit, yang ketika itu berupa asap. Istilah istiwa dipertahankan mengikuti lafaz dan tidak dijadikan uraian gerak benda fisik.
An-Nazi‘at 79:30
﴿وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا﴾Dan bumi, setelah itu, Dia hamparkan.