1.000 atau 50.000 Tahun? Makna Sehari dalam Al-Qur’an
Jawaban singkat
Al-Qur’an tidak menetapkan kaidah bahwa setiap hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun, lalu membatalkannya dengan angka lima puluh ribu. Angka-angka itu hadir dalam konteks berbeda: orang yang mendesak datangnya azab dalam Surah Al-Hajj (22:47); pengaturan urusan dan naiknya urusan itu dalam Surah As-Sajdah (32:5); serta naiknya para malaikat dan Ruh dalam Surah Al-Ma‘arij (70:4), disertai pendapat tafsir yang menghubungkan ayat terakhir dengan Hari Kiamat. Para mufasir sendiri berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan setiap «hari». Karena itu, kita tidak boleh menyatukan ketiga ayat menjadi satu persamaan, lalu menyatakan bahwa ada pertentangan atau menghitung kecepatan suatu benda angkasa. Melalui pengukuran jam, teori relativitas menunjukkan bahwa laju berjalannya jam dapat berbeda bergantung pada gerak dan gravitasi. Itu fakta fisika, tetapi tidak menentukan panjang hari-hari gaib ataupun menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan persamaan Einstein.
Mengapa angka 1.000 dan 50.000 tidak cukup digabungkan dalam satu perhitungan?
Seandainya saya berkata, “Perjalanan pertama menuju kota itu membutuhkan satu jam, sedangkan perjalanan kedua membutuhkan lima jam,” Anda tidak akan melihat kontradiksi sebelum terbukti keduanya adalah perjalanan yang sama, melalui rute yang sama, dalam kondisi yang sama. Begitu pula dalam ayat-ayat itu, pertanyaan pertama ialah: peristiwa apa yang sedang dibicarakan? Kepada siapa firman itu ditujukan? Apakah angka tersebut menggambarkan lamanya perjalanan, sifat suatu hari di akhirat, atau pendekatan untuk memahami kenyataan bahwa azab terasa tertunda bagi manusia?
Pertanyaan ini merupakan inti buku Qul Sīrū fī al-Arḍ fa-nẓurū Kayfa Bada’a al-Khalq («قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق»). Pada halaman 29–31, buku itu menempatkan ayat tentang seribu dan lima puluh ribu tahun berdampingan dengan hadis mengenai hari yang seperti setahun. Buku tersebut kemudian membicarakan relativitas dengan batasan tegas: perbedaan ukuran hari dalam teks agama tidak menjadikannya uraian tentang persamaan fisika, dan tidak memberi kita tabel untuk menghitung hari-hari penciptaan. Artikel ini menguji gagasan itu melalui pertanyaan tersendiri yang dicari pembaca, dengan mengembalikan setiap teks ke konteksnya sebelum membandingkannya.
Tiga teks, tiga pertanyaan berbeda
| Ayat | Apa yang dinyatakan ayat dalam konteksnya | Pertanyaan yang muncul |
|---|---|---|
| Al-Hajj: 47 | ﴿وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ﴾ Makna ayat: “Mereka mendesakmu agar azab segera datang, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian.” |
Mengapa mereka yang mendesak mengira tertundanya janji berarti janji itu dilanggar? |
| As-Sajdah: 5 | ﴿يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ﴾ Makna ayat: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kalian.” |
Apa yang dimaksud dengan naiknya urusan dan ukuran harinya? |
| Al-Ma‘arij: 4 | ﴿تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ﴾ Makna ayat: “Para malaikat dan Ruh naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” |
Kenaikan atau hari yang manakah yang dimaksud oleh ukuran ini? |
Perbedaan kebahasaan pertama perlu dicatat: Al-Hajj memakai perbandingan «كَأَلْفِ سَنَةٍ» (“seperti seribu tahun”) untuk menjawab mereka yang mendesak azab. Sementara As-Sajdah dan Al-Ma‘arij menggunakan ungkapan «كَانَ مِقْدَارُهُ» (“yang ukurannya ...”) dalam kaitannya dengan tindakan naik. Perbedaan ini belum cukup untuk menuntaskan seluruh kemungkinan penafsiran, tetapi mencegah kita menghilangkan kata kerja dan konteks, lalu menyisakan dua angka belaka.
Ayat Al-Hajj: apakah yang dimaksud adalah 'jam ilahi'?
Bagian tersebut dibuka dengan ﴿وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ﴾. Ath-Thabari memaparkan sejumlah pendapat mengenai “hari”: ada riwayat yang mengaitkannya dengan hari-hari penciptaan, ada yang menafsirkannya sebagai hari-hari akhirat, dan ada pula yang memahami kaitannya dengan penangguhan dan lamanya penantian. Dalam konteks ayat itu, ia kemudian lebih mengutamakan penjelasan bahwa Allah tidak tergesa-gesa: apa yang dirasakan manusia terlalu lambat tidak akan meleset dari waktu yang Allah tetapkan, sebagaimana tampak pada kelanjutan pembicaraan tentang penangguhan bagi negeri-negeri zalim. Ini merupakan pilihan tafsir berdasarkan konteks, bukan pengukuran perbandingan antara “jam di sisi Allah” dan jam di Bumi.1
Ungkapan ﴿عِندَ رَبِّكَ﴾ tidak mengizinkan kita menempatkan Sang Pencipta pada lokasi tinggi di alam semesta, mengukur gravitasinya, lalu menisbatkan jam atom kepadanya. Dalam fisika, yang dibandingkan adalah jam-jam material pada lokasi dan lintasan tertentu; ayat itu berbicara mengenai pengetahuan, janji, dan ketetapan Allah dalam konteks peringatan. Memindahkan istilah yang berlaku di alam teramati ke ranah gaib membutuhkan dalil, bukan sekadar kemiripan antara kata “hari” dan “waktu”.
Ayat As-Sajdah: seribu tahun bagi naiknya urusan
Ayat ini diawali perbuatan yang tidak boleh dipotong: ﴿يُدَبِّرُ الْأَمْرَ﴾, lalu ﴿ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ﴾. Ath-Thabari menukil pendapat yang memahami seribu tahun sebagai ukuran perjalanan turun dan naik menurut hitungan manusia; pendapat lain menghubungkannya dengan salah satu hari penciptaan; sementara beberapa keterangan lainnya membahas naiknya malaikat atau urusan. Semuanya merupakan pendapat dalam menafsirkan teks gaib. Perkiraan jarak dalam sebagian riwayat tidak dapat serta-merta diubah menjadi hasil pengukuran astronomi modern.2
Tidak tepat mengatakan, “Karena ayat Al-Hajj menyebut seribu dan ayat As-Sajdah juga seribu, keduanya pasti menunjuk satu hari fisik yang sama.” Kesamaan angka tidak membuktikan kesamaan peristiwa. Bahkan seandainya seorang mufasir menghubungkan kedua ayat itu, Al-Ma‘arij tetap harus ditafsirkan menurut konteksnya sendiri, bukan dengan membagi lima puluh ribu oleh seribu dan memperoleh “faktor dilatasi waktu” tanpa menentukan pengamat maupun jamnya.
Ayat Al-Ma‘arij: mengapa lima puluh ribu tahun?
Ath-Thabari mula-mula menjelaskan ayat ini melalui naiknya para malaikat dan Ruh dalam jarak yang berbeda dari kenaikan yang dibicarakan dalam As-Sajdah. Ia juga menukil pandangan bahwa yang dimaksud ialah Hari Kiamat, baik panjangnya maupun beratnya bagi orang yang menghadapi hisab. Ini perbedaan penafsiran yang sudah lama ada. Saya tidak mengklaim bahwa seluruh mufasir memilih tafsir Hari Kiamat, atau bahwa uraian jarak tersebut merupakan fakta astronomi yang bisa dilihat dengan teleskop.3
Salah satu riwayat paling cermat yang dinukil Ath-Thabari menyebut seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas, semoga Allah meridai keduanya, mengenai hari seribu tahun. Ibnu Abbas membalas dengan bertanya tentang hari lima puluh ribu tahun. Kemudian ia menyatakan bahwa keduanya adalah dua hari yang Allah sebutkan, dan Allah lebih mengetahui keduanya; ia tidak menyukai berbicara tentang Kitab Allah tanpa ilmu. Sesudah itu seorang peneliti boleh saja menguatkan satu pendapat atau menahan diri dari perincian, tetapi riwayat ini mengingatkan pada satu kaidah: keberadaan angka di dalam ayat tidak mewajibkan kita memiliki rumus konversi untuk setiap perkara gaib.4
Dengan demikian, jawaban terhadap keberatan “seribu atau lima puluh ribu?” cukup spesifik: kontradiksi tidak tampak selama belum terbukti kedua teks menetapkan dua ukuran berbeda bagi peristiwa yang sama, dilihat dari sisi yang sama. Konteks yang berbeda dan beragamnya penafsiran yang diriwayatkan mencegah kepastian atas premis tersebut. Ini jawaban tekstual, bukan siasat meminjam relativitas setiap kali muncul angka yang berbeda.
Hadis tentang hari seperti setahun: apa makna «اقدروا له قدره»?
Muslim meriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam‘an, semoga Allah meridainya, dalam kisah Dajjal, bahwa di antara hari-harinya terdapat satu hari seperti setahun, kemudian satu hari seperti sebulan, kemudian satu hari seperti sepekan, sedangkan hari-hari lainnya seperti hari-hari manusia. Ketika para sahabat bertanya apakah salat sehari saja sudah mencukupi untuk hari yang panjangnya seperti setahun, Nabi menjawab: «لا، اقدروا له قدره» (“Tidak. Perkirakanlah waktu-waktunya”).5
Pertanyaan dan jawaban itu menunjukkan bahwa ibadah tidak ditinggalkan tanpa aturan ketika kondisi waktu yang biasa berubah; waktu salat justru harus diperkirakan. Hadis itu tidak mengatakan Dajjal bergerak mendekati kecepatan cahaya, tidak menjelaskan penyebab memanjangnya hari, dan tidak menerangkan satu hari pun dari hari-hari penciptaan langit dan Bumi. Buku tersebut menggunakannya sebagai contoh luasnya penggunaan kata “hari” dan pentingnya perkiraan waktu, bukan sebagai pembuktian astronomis. Itulah batas pengutipan yang tepat.
Apa yang sebenarnya diukur oleh relativitas?
Dalam relativitas khusus, ketika sebuah benda bergerak sangat cepat relatif terhadap kerangka acuan yang sesuai, waktu yang tercatat pada jam yang menyertainya sepanjang lintasan berbeda dari waktu yang dikaitkan dengan kerangka lain. Untuk gerak beraturan dalam kerangka inersial, bentuk sederhananya ialah:
Δτ = Δt × √(1 − v²/c²)
Di sini, Δτ adalah waktu yang dicatat jam yang menyertai benda pada lintasannya; v adalah kecepatannya relatif terhadap kerangka yang dipilih; dan c ialah kecepatan cahaya. Persamaan itu bukan pernyataan bahwa “sehari di sisi Allah” sama dengan ukuran tetap tertentu: ia baru dapat digunakan setelah benda, lintasan, kerangka, dan jam didefinisikan.
Dalam relativitas umum, laju jam juga berbeda menurut potensial gravitasi. Di dekat permukaan Bumi, untuk selisih ketinggian kecil h, perbedaan fraksional perkiraan antara dua jam yang diam pada ketinggian berbeda ialah:
Δf/f ≈ gh/c²
Efek ini kecil, tetapi dapat diukur. Dalam eksperimen yang dilaporkan pada 2010, peneliti National Institute of Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat menaikkan salah satu dari dua jam atom sekitar 33 sentimeter dan mengukur selisih yang sejalan dengan perkiraan bahwa jam yang lebih tinggi berjalan sedikit lebih cepat. Mereka juga mengukur pengaruh gerak terhadap laju jam. Pada ketinggian tersebut, pendekatan tadi menghasilkan selisih fraksional sekitar 3,6 × 10⁻¹⁷: sama sekali bukan besaran yang mendekati konversi satu hari manusia menjadi seribu tahun, apalagi lima puluh ribu tahun.6 7
Pokok persoalannya bukan bahwa ayat-ayat tersebut “salah karena tidak cocok dengan percobaan”, melainkan bahwa jenis pertanyaannya berbeda: percobaan membandingkan jam material dalam geometri yang ditentukan, sedangkan tafsir meneliti maksud firman tentang janji, pengaturan, kenaikan, dan akhirat. Persamaan fisika tidak bisa memilih salah satu pendapat Ath-Thabari, sebagaimana perbedaan angka dalam ayat tidak dapat menyediakan kecepatan dan kerangka yang tidak disebutkan oleh teks.
Di mana teks agama dan sains bertemu, dan di mana keduanya berbeda?
Ada titik temu terbatas yang sah: keyakinan bahwa setiap penyebutan “hari” harus selalu berarti satu putaran Bumi selama 24 jam bukan kaidah bahasa maupun fisika yang berlaku umum. Namun kemiripan ungkapan “perbedaan ukuran waktu” dalam teks agama dan relativitas tidak berarti penyebabnya sama atau salah satunya dapat diturunkan dari yang lain.
Untuk menyimpulkan bahwa Al-Qur’an telah meramalkan relativitas melalui ayat-ayat itu, diperlukan sesuatu yang jauh lebih spesifik: teks yang menunjuk perbandingan jam antarpengamat dengan kondisi gerak atau gravitasi berbeda, serta hubungan kuantitatif yang dapat diuji tanpa memilih maknanya baru setelah teori ditemukan. Ayat-ayat tersebut tidak memberikan unsur-unsur itu. Setiap upaya menghitung kecepatan malaikat dari angka seribu tahun dan suatu jarak yang diperkirakan sendiri oleh pengusul menambahkan jarak, jam, dan lintasan yang tidak diketahui kepada teks, lalu mencampurkan yang gaib dengan model geometri buatan kita.
Sebaliknya, tidak tepat pula menolak ayat-ayat itu atas nama relativitas: ayat-ayat tersebut tidak menyatakan seluruh hari fisik sama ukurannya lalu memberi ukuran yang saling berbeda. Kita perlu membedakan penafsiran teks, pengukuran alam, dan perenungan iman yang mungkin dirasakan seorang pembaca ketika memikirkan keluasan penciptaan dan pengaturan-Nya.
Apa kaitannya dengan enam hari penciptaan dalam buku Qul Sīrū fī al-Arḍ?
Buku itu tidak mengatakan enam hari penciptaan sama dengan enam ribu tahun melalui perkalian angka enam dengan angka dalam ayat Al-Hajj, maupun tiga ratus ribu tahun dengan memakai angka Al-Ma‘arij. Pada halaman 28–31, buku tersebut menegaskan enam hari penciptaan, tetapi tidak menetapkan ukuran dan caranya melalui tabel ilmiah yang pasti. Ia kemudian membedakan perluasan cara kita memahami waktu dari upaya mengubah ayat menjadi teori relativitas Einstein.
Masalah itu mempunyai artikel tersendiri mengenai enam hari penciptaan, yang mengkaji redaksi, perbedaan tafsir, dan umur alam semesta. Adapun pertanyaan di sini lebih sempit: mengapa seribu tahun disebut pada satu tempat dan lima puluh ribu tahun pada tempat lain, serta bagian mana dari relativitas yang boleh atau tidak boleh digunakan? Karena itu kedua halaman tidak bersaing menjawab satu pertanyaan: yang pertama membahas masa penciptaan; yang ini membahas konteks angka dan klaim kecocokan fisika.
Pembaca yang ingin mengikuti metode buku itu, mulai dari ratq dan fatq hingga keteraturan alam, waktu, dan kerendahan hati di hadapan batas pengetahuan, dapat menemukan pengenalan buku dan berbagai riset terkait pada halaman «قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق». Buku itu merupakan titik asal pertanyaan dan arah kajian, sedangkan bukti tafsir dan eksperimen dalam artikel ini dicantumkan secara mandiri di bawah.
Kesimpulan
Seribu dan lima puluh ribu tahun bukan “dua angka yang bertentangan bagi jam ilahi”. Tiap ayat memiliki konteksnya; dalam menafsirkan hari-hari tersebut ada pendapat-pendapat lama yang harus ditampilkan secara jujur. Relativitas ialah kenyataan yang dibuktikan dengan jam atom, tetapi tidak mengubah hari dalam Al-Hajj, As-Sajdah, atau Al-Ma‘arij menjadi persamaan kecepatan dan gravitasi. Kekuatan pembacaan terletak pada menjaga teks dari pertanyaan yang tidak diajukannya, menjaga ilmu dari penggunaan yang tidak dibenarkan alatnya, dan mempertahankan keutamaan yang dicontohkan Ibnu Abbas dalam masalah ini: berhenti pada apa yang tidak diketahui.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah sehari di sisi Allah seribu tahun atau lima puluh ribu tahun?
Tidak ada hukum tunggal dalam ayat-ayat itu yang mengubah setiap hari menjadi sejumlah tahun. Seribu tahun disebut dalam konteks mereka yang mendesak azab dan konteks pengaturan serta naiknya urusan. Lima puluh ribu tahun disebut dalam konteks naiknya para malaikat dan Ruh, disertai pandangan tafsir yang berkaitan dengan Hari Kiamat. Maksud masing-masing ayat harus ditentukan sebelum dibandingkan.
Adakah kontradiksi antara As-Sajdah dan Al-Ma‘arij?
Pertentangan angka baru dapat dipersoalkan jika kedua ayat menetapkan ukuran berbeda bagi peristiwa yang sama dengan acuan yang sama. Para mufasir menukil penjelasan berbeda mengenai naiknya urusan, malaikat, dan Hari Kiamat. Kesamaan yang diklaim itu belum terbukti.
Apakah Al-Qur’an menyebut teori relativitas?
Teks-teks tersebut menunjukkan penggunaan kata “hari” lebih luas daripada ukuran hari Bumi yang lazim, sehingga membuka ruang perenungan. Namun teks tersebut tidak menyebut kerangka acuan, kecepatan, perbedaan potensial gravitasi, ataupun hubungan matematis antarjam. Karena itu, tidak tepat menyebutnya sebagai rumusan teori relativitas.
Apakah hari dalam hadis Dajjal menyerupai dilatasi waktu dalam fisika?
Hadis itu menggambarkan hari seperti setahun dan memerintahkan memperkirakan waktu-waktu salat di dalamnya. Hadis tersebut tidak menyebut mekanisme fisika yang memanjangkan hari, sehingga tidak tepat diubah menjadi percobaan relativitas atau dipakai untuk mengukur hari penciptaan.
Sumber
Wahyu dan tafsir: Al-Qur’an: Al-Hajj: 47; As-Sajdah: 5; Al-Ma‘arij: 4. Ath-Thabari, tafsir Al-Hajj: 47, As-Sajdah: 5, Al-Ma‘arij: 4. Muslim, Shahih, Kitab Al-Fitan wa Asyrath As-Sa‘ah, hadis An-Nawwas bin Sam‘an no. 2937.
Buku: Ahmed Alhafiz, قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق, hlm. 28–35, khususnya 29–31.
Ilmu: Chou CW dkk., “Optical Clocks and Relativity”, Science 329 (2010): 1630–1633, DOI 10.1126/science.1192720; NIST, penjelasan pengukuran.
- Ath-Thabari, Al-Hajj: 47.
- Ath-Thabari, As-Sajdah: 5.
- Ath-Thabari, Al-Ma‘arij: 4.
- Ath-Thabari, Al-Ma‘arij: 4.
- Shahih Muslim, hadis 2937, teks Arab.
- Chou dkk., Optical Clocks and Relativity.
- NIST, eksperimen dua jam atom.
Batasan edisi ini
Kajian ini dipimpin oleh Ahmed Alhafiz secara mandiri dan bukan penelitian akademis yang telah melalui penelaahan sejawat. Penulis telah meninjau teks dan sumbernya; penelaahan eksternal independen dalam ilmu tafsir dan fisika belum selesai.
Cara mengutip: Ahmed Alhafiz, “يوم كألف سنة ويوم بخمسين ألف سنة: هل يتعارض القرآن؟ وهل يتحدث عن النسبية؟”, versi 1.0, 28 September 2026.
Dari artikel ke buku: Pokok pertanyaan berasal dari قل سيروا في الأرض فانظروا كيف بدأ الخلق, bab pertama, hlm. 28–35, terutama 29–31. Klaim tafsir maupun ilmiah didukung sumber langsung di atas.