Novel Umm Abbas: Ketika Ketakutan Menguasai Keluarga
Dari pesan di ponsel hingga perselisihan keluarga dan kuasa penyembuh: pembacaan tentang bagaimana ketakutan memicu perebutan hak untuk menjelaskan pengalaman Maryam, tanpa mengungkap akhir novel.
Ketakutan seperti apa yang dikisahkan novel ini?
«أم عباس» (Umm Abbas) adalah novel horor psikologis yang masih dalam proses penerbitan. Ketakutannya tumbuh dari kehidupan sehari-hari di rumah dan kampus, dengan peristiwa-peristiwa ambigu serta gambaran supranatural dalam dunia fiksinya. Artikel ini membaca bangunan cerita dan hubungan antartokohnya; bukan menyajikannya sebagai kisah nyata yang terverifikasi ataupun kasus medis.Judul «أم عباس لجلب الحبيب وردّ المطلّقة» mungkin membangkitkan bayangan tentang seorang perempuan yang mempraktikkan sihir, atau kisah yang menjanjikan dunia yang jauh dari keseharian pembacanya. Namun, novel ini bermula dari ruang yang jauh lebih dekat: seorang mahasiswi, telepon genggam, rumah, dan keluarga yang berusaha memahami apa yang dialami putri mereka. Rasa takut menyelinap ke dalam hal-hal biasa itu, lalu mengubah cara orang memandang satu sama lain.
Novel karya Ahmed Alhafiz ini termasuk genre horor psikologis. Ia menggunakan misteri dan gambaran supranatural dalam dunianya, tetapi memberikan bobot utama kepada hubungan antarmanusia: siapa yang memercayai Maryam? Siapa yang mendengar penolakannya? Dan siapa yang memutuskan bahwa tafsirnya sendiri lebih penting daripada suara Maryam? Dalam pengertian ini, rumah dapat terasa sangat akrab meskipun peristiwa-peristiwanya tetap menyisakan kebingungan.
Bagaimana sebuah nama berubah menjadi belenggu?
Maryam bukanlah «Umm Abbas» pada awal cerita. Ia seorang perempuan muda dengan cara bercanda dan berinteraksinya sendiri. Karena itu, penting bahwa julukan tersebut melekat melalui ejekan dan peredarannya di antara orang-orang, bukan sebagai identitas yang dipilihnya sendiri dengan tenang. Kejanggalan nama panggilan itu muncul sejak dini, lalu menguat bersama suasana kampus, telepon, dan pesan-pesan yang berkaitan dengan janji memikat kekasih serta mengembalikan perempuan yang diceraikan.
Ungkapan itu meminjam bahasa iklan populer yang menawarkan penyelesaian persoalan asmara melalui resep magis. Namun, apa yang tampak sebagai lelucon melampaui orang yang menjadi sasarannya dan berubah menjadi kerangka yang dipakai orang lain untuk menafsirkan segala sesuatu. Ketika orang menertawakan julukan itu, mereka mungkin tak lagi mampu melihat gadis yang menyandangnya.
Di sinilah fungsi penting judul: mula-mula ia membuat pembaca bertanya-tanya tentang seorang perempuan misterius, kemudian mengembalikannya kepada seorang manusia yang dapat terkurung oleh tafsir ciptaan orang lain. Kengerian di sini tidak datang dari kegelapan saja. Ia juga lahir ketika banyak orang membicarakan dirimu, sementara semakin sedikit yang benar-benar berbicara denganmu.
Rumah bukan sekadar latar yang netral
Ayah dan ibu menghadapi ketakutan dengan dua cara berbeda. Sikap ragu tidak menjamin keadilan, sementara sikap percaya tidak menjamin perlindungan. Keraguan dapat berubah menjadi tuduhan bahwa seseorang berbohong, sedangkan kepercayaan dapat berubah menjadi penyerahan keputusan kepada orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui keluarga.
Novel ini tidak menjadikan salah satu sikap itu sebagai resep siap pakai. Rangkaian adegan menunjukkan bagaimana batas-batas di dalam rumah bergeser: pertanyaan, pengawasan, berbicara atas nama Maryam, dan memilih siapa yang boleh mendengarkannya. Sesuatu yang bermula sebagai keinginan menolong dapat menjadi tekanan tambahan ketika orang yang mengalami peristiwa itu tidak lagi diberi tempat dalam pengambilan keputusan.
Karena itu, kalimat «Kami melakukan ini demi kebaikanmu» saja tidak cukup. Di dalam cerita, tindakanlah yang menguji kalimat tersebut: bisakah Maryam mengatakan tidak? Apakah penolakannya mengubah sesuatu? Ataukah penolakan itu ditafsirkan kembali sebagai bukti yang justru membenarkan keputusan orang lain sejak awal?
Dokter yang mendengarkan sebelum menafsirkan
Dokter Qais al-Dalil memperoleh arti pentingnya dari cara ia memperlakukan Maryam. Dalam adegan pemeriksaan dan percakapan, ia membedakan apa yang dapat diamati dari sebab yang hendak diasumsikan seseorang. Mendengarkan tidak berarti menyatakan bahwa setiap tafsir Maryam pasti benar, dan melakukan pemeriksaan tidak memberikan izin untuk merendahkannya.
Catatan harian tentang kejadian-kejadian itu juga membawa makna sastra yang jelas: upaya merebut kembali waktu dari cengkeraman rasa takut. Alih-alih membiarkan sebuah label menelan segala sesuatu, pertanyaannya menjadi lebih khusus: apa yang terjadi? Kapan? Dan apa yang sungguh dilihat orang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengakhiri misteri cerita, tetapi mengubah etika dalam menghadapinya.
Tokoh dokter ini bukan pembuktian bahwa suatu diagnosis medis tertentu benar di dunia nyata. Di dalam novel, ia memperlihatkan perbedaan antara mencari jawaban dan memaksakan jawaban. Dari sinilah tercipta ruang untuk menghormati keyakinan keluarga, sambil tetap memandang Maryam sebagai manusia yang memiliki tubuh, suara, dan hak untuk memberikan persetujuan.
Seorang syekh menjaga batas, yang lain memonopoli kebenaran
Novel ini tidak melebur semua orang yang berbicara atas nama agama menjadi satu tokoh. Al-Surani dan Syekh Ahmad mewakili dua sikap berbeda terhadap manusia yang meminta pertolongan.
Dalam perlakuan Al-Surani, penolakan Maryam berubah menjadi bahan yang terus ditafsirkan ulang. Ketika setiap perlawanan dianggap sebagai bukti kebenaran ucapan sang penyembuh, orang yang mengalami peristiwa itu kehilangan cara untuk menyanggah: persetujuannya mendukung sang penyembuh, dan penolakannya pun dianggap mendukungnya. Di sinilah tampak bahaya kekuasaan yang tidak bersedia dipertanyakan ataupun mengakui kemungkinan salah.
Sebaliknya, Syekh Ahmad menetapkan batas bagi praktik tersebut dan menjaga agar perawatan bersama dokter tetap berlanjut. Pada halaman 194 ia berkata: «أولًا: الطبيب لا يُترك.» — “Pertama: jangan tinggalkan dokter.” Pentingnya pernyataan ini bukan karena ia memastikan apa yang sedang terjadi pada Maryam, melainkan karena ia mencegah pertanyaan keagamaan menelan tanggung jawab untuk merawatnya.
Ketika pada halaman 200 ia berkata, «لا تجعلوا السؤال يضيع البنت.» — “Jangan biarkan pertanyaan itu membuat anak ini terabaikan,” ia menata kembali apa yang harus diutamakan. Kebingungan mengenai sebab mungkin terus ada, tetapi kebingungan itu tidak membuat martabat kemanusiaannya boleh ditangguhkan. Dengan demikian, novel dapat mengkritik eksploitasi yang mengenakan pakaian agama, sekaligus menampilkan sikap keagamaan yang menjaga batas.
Mengapa kisah ini disertai catatan kaki yang gelap?
Catatan kaki itu berada di antara pengalaman Maryam dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan pembaca: kelumpuhan tidur, ingatan, kejang, kepercayaan populer, dan teks-teks agama. Kehadirannya memperluas jalan membaca cerita, tetapi tidak mengubah novel menjadi berkas diagnosis.
Di sejumlah bagian, teks menyebut kemungkinan-kemungkinan medis dan menegaskan bahwa satu adegan saja tidak cukup untuk membuktikan kerasukan jin. Rincian ini penting karena pembaca mungkin tergoda mengumpulkan tanda-tanda lalu menjatuhkan putusan akhir; sementara novel membangun pengaruhnya justru dari sulitnya mencapai putusan itu dan dari cara manusia menghadapi ketidaktahuan mereka sendiri.
Catatan kaki bukan pengganti sumber-sumber asli. Karena itu, artikel-artikel pendamping memisahkan kajian tentang fenomena nyata dari pembacaan atas cerita. Kita dapat memahami kelumpuhan tidur secara ilmiah, kemudian menelaah mengapa penulis memilih pengalaman malam untuk memperkuat kengerian, tanpa menjadikan Maryam sebagai kasus klinis ataupun menjadikan kisah ini bukti bagi fenomena di luar dunia novel.
Apa artinya sebuah cerita terasa dekat dengan kenyataan?
Kedekatan dengan kenyataan terlihat pada rumah, kampus, hubungan antarmanusia, dan ketakutan keluarga bahwa mereka mungkin telah melakukan kesalahan. Semua itu dapat dikenali pembaca dari hidupnya sendiri atau kehidupan orang yang dikenalnya. Namun, sesuatu yang terasa akrab tidak berarti bahwa seluruh peristiwa dalam novel merupakan laporan mengenai fakta yang telah dibuktikan.
Surat penulis menjelaskan bahwa sebuah pengalaman pribadi tentang ketakutan menjadi asal pertanyaan yang kemudian melahirkan tokoh Maryam. Pengalaman itu berubah menjadi kemungkinan dalam dunia novel: bagaimana jika keluar dari rasa takut tidak mungkin dilakukan dengan cara yang sama? Perubahan inilah kerja imajinasi; ia memberi buku ini ruang sastranya sendiri, alih-alih mengurungnya dalam klaim dokumentasi.
«Umm Abbas» dapat dibaca demi misterinya, juga demi keluarga yang berselisih mengenai cara menafsirkan misteri tersebut. Tulisan-tulisan yang menyertainya dapat dibaca untuk memahami teks, fenomena, dan batas-batas bukti. Dalam kedua jalur itu, pertanyaan tentang manusia tetap hadir: apa yang terjadi pada suara seseorang ketika orang lain lebih yakin tentang kebenaran dirinya daripada dia sendiri?
Untuk mengenal buku ini dan status resminya, bacalah halaman novel Umm Abbas. Untuk pertanyaan nyata yang disinggung cerita dari sudut pandang sastra, lihat pula artikel “Kerasukan Jin atau Gangguan Psikologis maupun Neurologis?”