Ahmed Alhafiz · 2026-09-25
Juhaiman 1979: Pengepungan Masjidil Haram dan Klaim Mahdi
Kajian pendahuluan yang memisahkan fakta-fakta yang telah dipastikan dari klaim-klaim yang masih diperselisihkan mengenai peristiwa Masjidil Haram pada 1979. Kajian ini menjelaskan bagaimana kelompok Juhaiman beralih dari riwayat-riwayat tentang Mahdi menuju penetapan Muhammad al-Qahtani sebagai sosok yang dimaksud, lalu menuju baiat dan penggunaan senjata.
Peninjauan oleh penulis telah selesai; peninjauan independen oleh ahli belum selesai.
Jawaban ringkas
Pada fajar 20 November 1979, bertepatan dengan 1 Muharam 1400 H, orang-orang bersenjata yang dipimpin Juhaiman al-Utaibi menguasai Masjidil Haram di Makkah. Mereka mengumumkan bahwa Muhammad bin Abdullah al-Qahtani adalah Mahdi yang dinantikan dan menyerukan agar ia dibaiat di antara Rukun dan Maqam. Pendudukan itu berubah menjadi pengepungan dan pertempuran yang berlangsung sekitar dua minggu. Peristiwa tersebut berakhir dengan direbutnya kembali Masjidil Haram oleh pasukan Saudi, tewasnya al-Qahtani, serta ditawannya Juhaiman dan anggota kelompoknya yang tersisa, disusul eksekusi 63 terpidana pada Januari 1980.
Namun, ringkasan ini belum menjawab pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana riwayat-riwayat keagamaan tentang Mahdi berubah menjadi penetapan seseorang tertentu, lalu menjadi rencana bersenjata? Kajian-kajian yang paling dapat diandalkan menunjukkan bahwa jawabannya bukan satu dorongan tunggal. Ideologi keagamaan yang bersifat oposisi, pembacaan zaman melalui gambaran akhir zaman, jaringan kelompok yang sangat erat, mimpi-mimpi, serta pencocokan nama dan ciri-ciri bertemu menjadi satu. Setelah itu, penilaian yang dianggap lebih mungkin benar di kalangan mereka sendiri beralih menjadi tindakan yang memaksa orang lain menanggung akibatnya. [1][2]
Apa yang kita ketahui dengan yakin?
| Pokok persoalan | Tingkat kepastian bukti | Catatan |
|---|---|---|
| Tanggal dimulainya pendudukan | Dapat dipastikan | 20 November 1979 / 1 Muharam 1400 H [1][3][4] |
| Pemimpin organisasi | Dapat dipastikan | Juhaiman bin Muhammad al-Utaibi [1][2] |
| Orang yang diumumkan sebagai Mahdi | Dapat dipastikan | Muhammad bin Abdullah al-Qahtani [1][3] |
| Tempat baiat yang diumumkan | Dapat dipastikan dalam pernyataan kelompok | Di antara Rukun dan Maqam [1][3] |
| Adanya persiapan, senjata, dan perbekalan | Secara umum dapat dipastikan | Sumber-sumber berbeda dalam sebagian perincian tentang cara memasukkan barang-barang itu dan jumlahnya [1][3] |
| Lama pengepungan | Secara umum dapat dipastikan | Sekitar dua minggu; Masjidil Haram direbut kembali pada awal Desember [1][4] |
| Tewasnya al-Qahtani dan tertangkapnya Juhaiman | Dapat dipastikan | [1][3] |
| Jumlah pasti orang bersenjata, korban tewas, dan orang yang ditahan | Masih diperselisihkan | Angka-angka yang bertentangan tidak semestinya digabungkan menjadi satu angka akhir tanpa menyebutkan sumbernya |
| Perincian bantuan asing | Keterangan dalam berbagai sumber berbeda-beda | Setiap klaim memerlukan sumbernya sendiri dan tidak semestinya diringkas menjadi kalimat sensasional |
Siapakah Juhaiman?
Kelompok Juhaiman tidak muncul dari ruang hampa pada pagi peristiwa itu. Kajian Thomas Hegghammer dan Stéphane Lacroix merekonstruksi perjalanan kelompok tersebut dari lingkungan dakwah Salafi yang tumbuh di Madinah pada dekade 1960-an. Dari lingkungan itu kemudian muncul arus yang lebih keras menolak negara dan para ulama yang terkait dengannya. Kedua peneliti menggunakan literatur berbahasa Arab dan Inggris serta wawancara dengan orang-orang yang mengenal gerakan itu atau menyaksikan sebagian sejarahnya. Karena itulah kajian mereka tetap menjadi titik tolak yang lebih kuat daripada kisah-kisah ringkas yang beredar. [1]
Sementara itu, kajian Cole Bunzel yang lebih baru kembali menelaah risalah-risalah kelompok itu sendiri dalam satu setengah tahun sebelum pendudukan. Kajian tersebut mengidentifikasi tiga pokok utama: rujukan kepada warisan Wahhabi, penolakan terhadap kekuasaan keluarga Saudi, dan kecenderungan eskatologis. Menurut kajian ini, keyakinan tentang akhir zaman bukan hiasan yang ditambahkan pada sebuah protes politik, melainkan unsur sentral yang mengarahkan pilihan tempat di Masjidil Haram, waktu pelaksanaan, dan pengumuman Mahdi. Kajian itu juga mengingatkan agar daftar tuntutan politik yang dinisbahkan kepada para pelaku bersenjata tidak diterima begitu saja sebagai dokumen yang sahih tanpa pemeriksaan. [2]
Dalam pengertian ini, kelompok tersebut bukan sekadar ‘pasukan kudeta’ yang menyembunyikan program politik biasa di balik bahasa agama, ataupun sekadar orang-orang yang terbangun dengan satu mimpi yang sama. Ia adalah gerakan dengan sejarah internal, risalah, hubungan, dan perselisihannya sendiri, yang kemudian mengerucut ke dalam sebuah faksi yang mulai membaca masa kini melalui peta akhir zaman.
Mengapa Muhammad al-Qahtani dipilih?
Sumber-sumber menghimpun beberapa unsur yang digunakan di dalam kelompok itu:
- Namanya dan nama ayahnya: Muhammad bin Abdullah, sesuai dengan rumusan yang beredar dalam riwayat-riwayat tentang Mahdi.
- Klaim bahwa nasabnya berasal dari Ahlulbait.
- Ciri-ciri fisik yang menurut para pengikutnya sesuai dengan apa yang disebutkan dalam sebagian riwayat.
- Mimpi-mimpi yang dikisahkan oleh orang-orang di dalam lingkaran kelompok itu.
- Keraguan al-Qahtani pada mulanya, lalu kesediaannya belakangan. Perubahan ini sendiri ditafsirkan agar sesuai dengan gambaran tentang orang yang enggan menerima baiat atau yang ‘diperbaiki Allah dalam satu malam’ (يُصلحه الله في ليلة).
- Waktunya: fajar pada hari pertama abad Hijriah yang baru, yang mengaitkan klaim Mahdi dengan gagasan pembaruan dan permulaan zaman baru. [1][2][3]
Persoalan metodologisnya bukan bahwa setiap kepingan itu tidak bermakna bagi mereka yang meyakininya. Persoalannya adalah bahwa setiap kepingan memerlukan pembuktian tersendiri, lalu jawaban atas satu pertanyaan tambahan: sekalipun riwayat yang bersifat umum itu benar, apa yang membuktikan bahwa lelaki inilah sosok yang dimaksud? Dan sekalipun sekelompok orang menganggap penetapan itu lebih mungkin benar, apa yang memberi mereka hak untuk membawa ribuan orang di Masjidil Haram dari salat menuju baiat dan konfrontasi bersenjata?
Dari riwayat menuju tindakan
Di sinilah letak pembedaan yang hilang dalam banyak kisah ringkas. Jalan yang ditempuh dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
- Dasar riwayat: adakah riwayat-riwayat keagamaan tentang Mahdi dan orang yang berlindung di Baitullah?
- Penetapan sosok: apakah Muhammad al-Qahtani adalah orang yang sesuai dengan riwayat-riwayat itu?
- Kewajiban bertindak: apakah terbuktinya kebenaran riwayat itu, atau lebih kuatnya dugaan mengenai sosok yang dimaksud, merupakan perintah bagi kelompok tertentu untuk menyelenggarakan baiat dengan cara seperti ini dan membawa senjata masuk ke Masjidil Haram?
Peralihan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya tidak terjadi dengan sendirinya. Keberadaan orang-orang yang bersemangat saja tidak mengubah teks yang mengabarkan peristiwa mendatang menjadi perintah bagi mereka untuk mewujudkan setiap perincian yang mereka nantikan. Demikian pula, tanggapan negara terhadap sebuah kelompok bersenjata tidak dengan sendirinya menjadi bukti independen atas kebenaran penetapan sosok yang mereka lakukan. Tanggapan itu mungkin justru merupakan akibat langsung dari adanya senjata dan penguasaan tempat tersebut.
Pembedaan ini tidak mengingkari adanya keyakinan pada diri anggota kelompok itu, ataupun menjadikan mereka sekadar bahan ejekan. Sebaliknya, ia menjelaskan bagaimana orang-orang yang menganggap diri mereka setia kepada teks dapat menambahkan, selangkah demi selangkah, penilaian-penilaian manusia yang tidak ditopang oleh teks itu saja.
Apa yang terjadi pada pagi 20 November?
Seusai salat Subuh, al-Qahtani diumumkan sebagai Mahdi, baiat dimulai, dan orang-orang bersenjata menyebar di Masjidil Haram serta pintu-pintu masuknya. Sejumlah laporan jurnalistik menyebutkan bahwa senjata disembunyikan di dalam peti-peti jenazah yang dibawa masuk seolah berisi jenazah. Namun, perincian tepat tentang cara memasukkan seluruh senjata beserta jumlahnya tidak memiliki tingkat kepastian yang sama dalam setiap sumber. Karena itu, lebih baik menyebutkan sumber kisah tersebut daripada menyajikannya sebagai satu-satunya gambaran yang utuh. [3]
Di Masjidil Haram terdapat puluhan ribu jemaah salat yang berasal dari berbagai negara dan bertutur dalam beragam bahasa. Sebagian tidak memahami pengumuman itu, sebagian mencoba keluar, dan sebagian mendapati diri berada di tengah peristiwa yang tidak mereka pilih. Fakta ini penting: pernyataan kelompok bahwa mereka tidak memaksa siapa pun berbaiat tidak menghapus kenyataan bahwa keberadaan senjata dan penguasaan pintu-pintu masuk mengubah makna pilihan, bahkan sebelum satu peluru pun ditembakkan.
Pasukan keamanan merespons, upaya-upaya awal untuk merebut kembali tempat itu gagal, lalu pertempuran meluas. Orang-orang bersenjata tersebut telah mempersiapkan diri menghadapi pengepungan dan memiliki posisi-posisi pertahanan, perbekalan, serta amunisi. Al-Qahtani tewas dalam pertempuran, tetapi kabar kematiannya tidak langsung diterima di dalam kelompok. Kajian sejarah menyebutkan bahwa sebagian pengikut tetap percaya, untuk beberapa waktu, bahwa ia masih hidup. [1]
Pengepungan berakhir dengan direbutnya kembali Masjidil Haram pada awal Desember. Juhaiman ditawan, lalu dieksekusi bersama 62 terpidana lain di beberapa kota Saudi pada 9 Januari 1980. Adapun angka korban tewas, korban luka, orang bersenjata, dan jemaah haji yang ditahan sangat beragam dari satu sumber ke sumber lain. Karena itu, memilih angka yang paling sensasional lalu menyebutnya sebagai kebenaran akhir tidak memberi manfaat bagi pemahaman kita. [1][4]
Apakah peristiwa itu protes politik atau gerakan Mahdi?
Jawaban yang lebih tepat: gerakan tersebut membawa penolakan politik, sosial, dan keagamaan terhadap tatanan yang berlaku. Namun, penafsiran eskatologis menentukan bentuk operasi itu sendiri. Pemilihan 1 Muharam 1400, penetapan Mahdi, baiat di antara Rukun dan Maqam, serta penantian akan pasukan yang datang ke Baitullah bukan sekadar lapisan luar yang bisa ditanggalkan tanpa mengubah peristiwa itu sendiri.
Kajian Bunzel menegaskan bahwa pendudukan tersebut tidak dapat dipahami dengan baik hanya sebagai ‘pemberontakan’ yang membawa tuntutan politik biasa. Unsur ideologi Juhaiman yang paling besar pengaruhnya terhadap keputusan untuk bertindak adalah gambaran tentang akhir zaman. [2] Namun, ini tidak berarti bahwa konteks politik dan sosial tidak penting. Gerakan itu lahir di tengah pertarungan atas otoritas penafsiran, legitimasi, dan ketaatan, dalam masyarakat yang sedang berubah dengan cepat.
Apa yang belum kita ketahui secara pasti?
- Jumlah pasti orang yang terlibat pada setiap tahap.
- Satu angka korban yang disepakati bersama.
- Jalur yang ditempuh setiap senjata hingga masuk ke dalam masjid.
- Seberapa jauh setiap anggota mengetahui rencana itu sebelum memasuki Masjidil Haram.
- Dorongan batin setiap orang: keyakinan, pertemanan, ketaatan, takut akan kesepian, atau perpaduan di antaranya.
- Ketepatan setiap perincian dalam kesaksian-kesaksian belakangan, terutama yang dituturkan bertahun-tahun setelah trauma, pemenjaraan, dan perdebatan politik.
Mengakui batas-batas ini tidak melemahkan kajian. Justru pengakuan inilah yang mencegah kita mengulangi mekanisme yang sedang kita telaah: mengisi kekosongan dengan hal-hal yang sesuai dengan kisah yang telah tersusun utuh sebelumnya.
Mengapa peristiwa ini masih penting?
Karena peristiwa ini memberikan contoh yang langka tentang bertemunya empat hal: teks-teks keagamaan, penetapan seseorang tertentu, identitas kelompok, dan kesiapan bersenjata. Ia mengingatkan bahwa kesalahan tidak selalu bermula dari kebohongan yang disengaja. Kesalahan dapat bermula dari teks yang sahih tetapi dibebani makna melebihi apa yang dikatakannya, dari riwayat yang tidak lengkap dan kehilangan catatan kehati-hatiannya ketika disampaikan kembali, atau dari kesetiaan kepada orang-orang saleh yang berubah menjadi pengganti pemeriksaan bukti.
Peristiwa ini juga tidak dapat dipahami hanya dari akhirnya. Jika kita memulai dari senapan, kita akan melewatkan rumah-rumah, risalah-risalah, perjalanan, serta bantuan-bantuan kecil yang membangun kepercayaan. Dan jika kita memulai dari gambaran tentang ‘orang fanatik’, kita akan melewatkan bagaimana ketulusan pribadi dan kekeliruan metodologis dapat hadir bersama dalam diri orang yang sama.
Dari sejarah menuju novel
Novel Ahmed Alhafiz «جهيمان — خوارج بين الركن والمقام» mengangkat peralihan ini dari dalam pengalaman pribadi rekaan: bagaimana tangan mendahului pertanyaan, bagaimana ‘saya tidak tahu’ berubah dari alasan menjadi tanggung jawab, dan bagaimana setiap peluru tetap harus dipertanggungjawabkan, bahkan dalam perjuangan yang dianggap benar oleh para pelakunya.
Novel ini adalah karya sastra yang berpijak pada sebuah peristiwa sejarah. Di dalamnya terdapat tokoh, dialog, dan peristiwa rekaan yang diperlukan oleh konstruksi novel. Karena itu, adegan-adegannya tidak digunakan sebagai bukti atas fakta-fakta dalam kajian ini. Halaman novel: /books/juhayman/
Baca juga: Bagaimana keyakinan kolektif berubah menjadi kekerasan? Tujuh mekanisme yang dijelaskan penelitian dan diuji oleh novel.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan peristiwa Juhaiman terjadi?
Peristiwa itu dimulai pada fajar 20 November 1979, bertepatan dengan 1 Muharam 1400 H. Pengepungan berlangsung sekitar dua minggu.
Siapa orang yang diumumkan sebagai Mahdi?
Muhammad bin Abdullah al-Qahtani, salah seorang di lingkaran dekat Juhaiman sekaligus iparnya.
Mengapa mereka percaya bahwa ia adalah Mahdi?
Mereka bertumpu pada kecocokan nama, klaim tentang nasab dan ciri-ciri fisik, mimpi-mimpi, serta pembacaan eskatologis atas waktunya. Gabungan unsur-unsur ini meyakinkan kelompok tersebut, tetapi tidak serta-merta menjadi bukti yang mengikat orang lain.
Apakah jemaah dipaksa berbaiat?
Pengalaman ribuan orang yang hadir tidak dapat diringkas menjadi satu jawaban. Sebagian keluar, sebagian tidak memahami apa yang terjadi, dan sebagian mendapati diri berhadapan dengan orang-orang bersenjata yang menguasai pintu-pintu masuk. Bahkan tanpa perintah lisan secara langsung, senjata mengubah makna pilihan.
Apakah Muhammad al-Qahtani tewas selama pengepungan?
Ya, ia tewas dalam pertempuran. Namun, kabar kematiannya menjadi sesuatu yang disangkal atau diragukan di dalam kelompok selama pengepungan.
Berapa jumlah korban tewas?
Angka yang dilaporkan berbagai sumber berbeda jauh. Lebih baik menyajikan angka-angka dengan menyebutkan sumbernya daripada menciptakan satu jumlah akhir yang semu.
Apakah novel merupakan sumber sejarah?
Tidak. Novel ini berpijak pada peristiwa tersebut dan menggunakan tokoh serta dialog rekaan. Fakta-fakta sejarah dalam artikel ini didasarkan pada sumber-sumber independen.
Referensi
- Thomas Hegghammer & Stéphane Lacroix, “Rejectionist Islamism in Saudi Arabia: The Story of Juhayman al-ʿUtaybi Revisited,” International Journal of Middle East Studies 39 (2007). https://doi.org/10.1017/S0020743807002553
- Cole M. Bunzel, “Toward the Seizure of the Grand Mosque in Mecca: The Writings and Ideology of Juhaymān al-ʿUtaybī and the Ikhwān,” Die Welt des Islams (2023). https://doi.org/10.1163/15700607-20230001
- BBC, “Mecca 1979: The mosque siege that changed the course of Saudi history,” 27 Desember 2019. https://www.bbc.com/news/stories-50852379
- Encyclopaedia Britannica, “Seizure of the Great Mosque of Mecca (1979).” https://www.britannica.com/event/seizure-of-the-Great-Mosque-of-Mecca
Peninjauan editorial terakhir: 25 September 2026. Koreksi yang terdokumentasi diintegrasikan dengan keterangan tanggal perubahan.