Hukum Pelet Cinta: Bisakah Mengembalikan Pasangan?
Benarkah sihir pengasihan dapat mengembalikan orang tercinta atau mantan istri? Sebuah telaah atas hukum tiwalah, perbedaan rukiah dan sihir, serta cara menguji kisah kembalinya pasangan dan rasa tenang setelah ritual.
Percakapan lama itu masih tersimpan di ponsel, dan status “terakhir dilihat” menjadi penanda waktu yang terus Anda tunggu. Anda membaca pesan yang tak kunjung dibalas, lalu bimbang antara mengirim pesan lagi dan mempertahankan sisa harga diri. Di ruang antara harapan akan kepulangan dan ketakutan akan berakhirnya hubungan itu, muncul sebuah ungkapan yang seolah tahu di mana luka Anda berada: «جلب الحبيب وردّ المطلّقة»—mendatangkan kembali orang tercinta dan mengembalikan istri yang telah diceraikan.
Ungkapan itu menjanjikan sesuatu yang tidak dapat diberikan layar ponsel: balasan pesan akan datang dan orang yang pergi akan mengurungkan kepergiannya. Ketika kata “dijamin” ditambahkan, penantian tampak seperti persoalan yang telah tersedia penyelesaiannya. Namun kita perlu bertanya: apa sebenarnya yang dijamin oleh orang yang membuat janji itu, dan apa buktinya?
Dalam fatwa yang dikutip artikel ini, penggunaan sihir untuk mendatangkan cinta dinyatakan haram; kisah-kisah keberhasilan tidak membuktikan janji bahwa seseorang pasti kembali. Adapun doa, rukiah yang dibenarkan agama, dan upaya mendamaikan hubungan tidak boleh disamakan dengan sihir hanya karena semuanya mengharapkan kasih sayang. Syekh Ibnu Baz menggolongkan praktik sihir untuk menumbuhkan cinta ke dalam apa yang disebut tiwalah.[1]
Pertanyaan ini menuntut pembedaan tersebut, sebab orang yang menginginkan seseorang kembali bisa saja berniat berdamai, tetapi bisa pula menginginkan janji untuk menundukkan kehendak orang itu. Dua maksud tersebut bersebelahan dalam iklan, tetapi tidak berarti sama.
Apa yang dimaksud dengan pelet cinta dan sihir pengasihan?
Jika yang dimaksud dengan “mendatangkan orang tercinta” adalah praktik yang diklaim dapat mengubah perasaan seseorang lewat sihir atau rajah, kita sedang berhadapan dengan klaim tertentu: penyedia jasa mengaku dapat memengaruhi kehendak seseorang yang tidak hadir dengan sarana tersembunyi. Klaim itu dapat dipasarkan sebagai sihir cinta, pengasihan, atau pemanggilan kembali orang yang pergi.
Sebaliknya, usaha memperbaiki hubungan melalui percakapan, permintaan maaf, dan perubahan perilaku tidak patut dikelompokkan bersama praktik tadi hanya karena sama-sama menghendaki kembalinya kasih sayang. Tidak setiap keinginan berdamai berubah menjadi keinginan menguasai. Penilaian atas suatu perbuatan memerlukan pengetahuan tentang apa yang benar-benar dilakukan, bukan sekadar nama yang disematkan padanya.
Dari sinilah pertanyaan yang berguna bagi siapa pun yang menawarkan jasa bermula: apa tepatnya yang akan Anda lakukan? Apa bukti bahwa cara itu berpengaruh pada orang yang dimaksud? Bila jawabannya tetap dirahasiakan dan tidak boleh dipertanyakan, kerahasiaan itu sendiri tidak menambahkan bukti apa pun bagi klaimnya.
Bagaimana hukum pelet cinta dalam Islam?
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, semoga Allah meridainya, bahwa Nabi, semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, bersabda: «إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ» (terjemahan makna oleh penyunting: “Sesungguhnya jampi-jampi [yang dimaksud dalam konteks ini], jimat, dan tiwalah adalah syirik”). Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 3883 dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam fatwanya mengenai praktik yang membuat perempuan mencintai laki-laki atau sebaliknya, Ibnu Baz menyebutnya sihir dan tiwalah. Karena itu, keinginan menghadirkan keakraban antara suami dan istri bukan alasan untuk menggunakan sihir.[2][1]
Namun kata ruqā (rukiah) dalam hadis tadi tidak berarti bahwa seluruh rukiah dilarang. Dalam Sahih Muslim, dari Auf bin Malik al-Asyja'i, semoga Allah meridainya, Nabi, semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, bersabda: «اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ» (terjemahan makna oleh penyunting: “Perlihatkan kepadaku bacaan rukiah kalian. Tidak mengapa melakukan rukiah selama tidak mengandung kesyirikan”). Kedua hadis itu mesti dibaca bersama; salah satunya tidak boleh dipotong untuk mengharamkan rukiah yang dibenarkan, ataupun untuk menyamarkan praktik tak dikenal dengan menyebutnya rukiah.[3]
Fatwa yang dibicarakan di sini berkaitan dengan sifat perbuatannya. Adapun penilaian terhadap orang tertentu—apa yang diketahuinya, diyakininya, atau dilakukannya—tidak dapat disimpulkan dari satu baris iklan atau dari pertanyaan yang ditulis seseorang saat sedang gelisah.
Apakah istilah “mendatangkan cinta dengan Al-Qur'an” mengubah hukumnya?
Mencantumkan satu ayat dalam iklan tidak serta-merta membenarkan semua yang ditawarkan di dalamnya. Hadis yang memperbolehkan rukiah tanpa unsur syirik pun tidak memberikan jaminan kepada siapa pun bahwa ia dapat membuat orang tertentu kembali pada tanggal yang dipilihnya.
Jika Anda diberi tahu bahwa bacaan tertentu, dengan jumlah pengulangan tertentu, pasti memaksa orang yang pergi untuk kembali, tanyakan dasar penetapan cara tersebut dan bukti hasil yang dijanjikan. Dalil tentang keutamaan Al-Qur'an adalah satu perkara; klaim khusus tentang suatu cara yang pasti memengaruhi orang tertentu adalah perkara lain yang membutuhkan landasannya sendiri.
Seseorang boleh berdoa kepada Allah agar urusannya diperbaiki dan mencari ketenangan melalui ibadah. Tetapi menjadikan ibadah semacam kontrak yang menjamin perasaan orang lain berarti beralih kepada klaim tambahan yang tidak terbukti hanya karena memakai kata-kata agama. Kegagalan janji itu pun tidak pantas langsung dijadikan bukti lemahnya iman orang yang telah membayar dan menunggu.
Mengapa janji seperti ini terasa meyakinkan saat kita takut kehilangan?
Dalam hubungan yang sedang goyah, sulit menerima bahwa keputusan berada pada dua orang dan sebagian darinya di luar kendali kita. Anda mungkin dapat meminta maaf, tetapi tidak tahu apakah permintaan itu diterima. Anda mungkin dapat berubah, tetapi tidak mampu menentukan hari ketika orang lain kembali memercayai Anda.
Di sinilah janji hasil cepat menjadi memikat: ia memberi langkah-langkah bagi penantian, memberi nama pada ketidakpastian, dan membuat Anda merasa ada sesuatu yang sedang bekerja untuk kepentingan Anda. Ini salah satu kemungkinan penjelasan atas daya tarik janji tersebut, bukan diagnosis terhadap setiap orang yang memercayainya.
Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2008 di jurnal Science, Jennifer Whitson dan Adam Galinsky melaporkan enam eksperimen tentang hilangnya rasa kendali. Dalam kondisi eksperimen tersebut, peserta yang merasakan kendali lebih rendah cenderung lebih mudah melihat pola dan hubungan semu di antara rangsangan yang acak atau tidak saling berkaitan; termasuk dalam temuan itu munculnya keyakinan takhayul.[4]
Eksperimen-eksperimen itu tidak meneliti jasa pelet cinta ataupun orang-orang yang bercerai, dan dengan sendirinya tidak membuktikan alasan orang tertentu memercayai janji tersebut. Namun eksperimen itu membuka kemungkinan yang patut diperhatikan: ketika kebutuhan akan penjelasan semakin mendesak, kita mungkin memberi bobot berlebihan pada hubungan-hubungan tertentu.
Karena itu, ada gunanya meninjau kembali janji tersebut pada saat pikiran lebih tenang, lalu memperlihatkan rinciannya kepada seseorang yang tidak menanti hasilnya dengan kegelisahan yang sama. Sedikit jarak dari rasa sakit mungkin memungkinkan kita mengajukan pertanyaan yang kemarin terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Saya merasa tenang setelah ritual; apakah itu bukti?
Seseorang yang menjalani ritual mungkin merasa lebih tenang: kini ada tanggal untuk ditunggu, serangkaian langkah yang telah selesai, dan penjelasan atas apa yang dialaminya. Di sini pertanyaannya perlu dirumuskan dengan cermat: perasaan orang yang menjalani ritual itu bisa saja berubah, sedangkan klaim bahwa ritual tersebut memengaruhi seseorang yang jauh tetap belum terbukti.
Michael Norton dan Francesca Gino dari Harvard Business School merangkum tiga eksperimen dalam penelitian yang terbit pada edisi 2014 Journal of Experimental Psychology: General. Peserta yang mengingat ritual terdahulu atau melaksanakan ritual percobaan setelah mengalami kehilangan melaporkan kesedihan yang lebih ringan. Hasilnya mengisyaratkan bahwa pulihnya rasa kendali menjelaskan sebagian dari pengaruh tersebut.[8]
Itu adalah eksperimen tentang kesedihan dan kehilangan, bukan pengujian jasa pelet cinta ataupun anjuran untuk memakainya. Temuan itu membantu kita mempertajam pertanyaan: apakah perasaan saya yang berubah, atau keputusan orang lain? Jika keduanya terjadi, apa bukti bahwa penyebabnya sama?
Penelitian psikologi saja juga tidak menentukan sah atau tidaknya suatu praktik keagamaan; perkara itu mempunyai dalil tersendiri. Sementara itu, mengubah setiap perasaan lega menjadi kesaksian atas kekuatan penyedia jasa berarti mencampuradukkan hasil batiniah yang bisa digambarkan dengan janji tentang orang lain yang memerlukan pengujian tersendiri.
Dia kembali setelah ritual: bukankah itu membuktikan keberhasilannya?
Bayangkan, misalnya, seseorang membayar untuk sebuah “ritual pengasihan”, lalu dua hari kemudian menerima pesan dari mantan pasangannya. Pesan tersebut merupakan kejadian yang dapat diperiksa. Namun pernyataan bahwa ritual itulah penyebab pesan tersebut adalah penafsiran yang masih perlu diuji.
Bisa jadi pihak lain memang sudah berpikir untuk menghubungi lebih dahulu, seorang kerabat ikut campur, atau keadaan pekerjaan berubah. Kita tidak dapat memilih salah satu kemungkinan itu tanpa informasi; tetapi adanya berbagai kemungkinan tersebut menunjukkan mengapa urutan waktu saja tidak dapat memastikan penyebab peristiwa.
Untuk menilai kisah-kisah keberhasilan, kita juga perlu tahu berapa banyak pelanggan yang telah membayar tetapi orang yang mereka harapkan tidak kembali. Apa yang dihitung sebagai berhasil: satu pesan singkat, perdamaian, atau hubungan yang bertahan? Apakah hasil dan tenggatnya ditentukan sebelum ritual, atau definisinya diubah setelah sesuatu terjadi?
Jika kepulangan dianggap keberhasilan, sementara ketidakhadiran dianggap bukti kuatnya “penghalang”, lalu keduanya menjadi alasan untuk meminta pembayaran baru, hasil seperti apa yang masih bisa menunjukkan bahwa janji itu gagal? Ketika setiap akhir cerita diterima sebagai pembenaran, kisah tersebut kehilangan kemampuannya untuk menguji klaim.
Orang yang mengalami peristiwa itu mungkin sungguh-sungguh jujur menggambarkan kegembiraannya, sedangkan pengetahuan kita tentang penyebab kepulangan tetap terbatas. Mendengarkan kisahnya dengan hormat tidak mengharuskan kita memberi kepastian pada penafsirannya melampaui bukti yang ada.
Mengembalikan istri yang telah diceraikan: apa yang perlu diperbaiki?
Al-Qur'an membahas perselisihan suami-istri dengan menyebut penengah dari kedua keluarga: «وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا» [An-Nisa: 35] — “Jika kalian khawatir terjadi perselisihan antara keduanya, utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan” (terjemahan makna kutipan oleh penyunting). Petunjuk ini mengarahkan perhatian pada penanganan perselisihan melalui orang-orang yang menelaah persoalan dan berusaha mendamaikan.[5]
Dalam konteks perceraian, Allah berfirman: «فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا» [Al-Baqarah: 231] — “Pertahankanlah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik. Jangan mempertahankan mereka untuk menyakiti sehingga kalian melampaui batas” (terjemahan makna kutipan oleh penyunting). Prinsip memperlakukan dengan baik tetap hadir, baik ketika melanjutkan ikatan maupun berpisah; larangan mempertahankan ikatan untuk menyakiti pun dinyatakan secara tegas.[6]
Makna-makna ini tidak merangkum seluruh ketentuan rujuk dan pernikahan setelah perceraian; setiap kasus memiliki rincian yang perlu ditanyakan kepada lembaga fatwa yang kompeten. Namun semuanya memperlihatkan kekurangan iklan yang meringkas masalah menjadi “membawanya kembali”: kembalinya seseorang saja tidak menjawab alasan perpisahan atau apakah keadaan yang dahulu membuat hidup menyakitkan telah berubah.
Pertanyaan yang layak diupayakan ialah: apa yang benar-benar dapat diperbaiki? Mungkin berupa permintaan maaf yang jelas, kesepakatan tentang tanggung jawab yang terabaikan, atau mediasi yang aman. Jika terdapat ancaman atau kekerasan, keinginan untuk berdamai tidak boleh berubah menjadi tekanan untuk menerima perlakuan yang merugikan.
Dari hati orang yang pergi ke ketakutan Maryam dalam “Umm Abbas”
Dalam bab ketujuh novel saya, «أم عباس لجلب الحبيب وردّ المطلّقة», Maryam pulang bersama kedua orang tuanya dari dokter. Mereka membawa selembar catatan untuk mencatat tidur dan berbagai kejadian. Sang ayah ingin mereka mengikuti anjuran dokter; sang ibu ingin menanyakan persoalan itu kepada seseorang yang dikenal mengamalkan rukiah. Ketika pembicaraan memanas, Maryam terjebak di tengah perselisihan tentang cara memahami penderitaannya dan siapa yang dapat menolongnya.[7]
Yang menarik perhatian saya dalam adegan ini ialah bahwa kedua orang tuanya sama-sama ingin menyelamatkan Maryam. Niat baik ada, ketakutan pun ada, tetapi kesepakatan tentang cara menolongnya justru semakin sulit dicapai. Pertanyaan “siapa yang mampu menyelamatkannya?” menjadi lebih berat daripada pertanyaan awal yang sebenarnya dapat diajukan: apa yang kita ketahui tentang apa yang menimpanya, dan apa yang masih belum kita ketahui?
Ketegangan tersebut dapat dibaca berdampingan dengan janji “mendatangkan orang tercinta”: semakin sulit kita menanggung ketidakpastian, semakin berharga sosok yang berjanji mengakhirinya. Saat berpisah, kita mungkin ingin menguasai hati seseorang yang pergi; saat ketakutan, kita mungkin menyerahkan wewenang untuk menafsirkan hidup kita kepada orang lain. Hubungan keduanya di sini bersifat sastra dan analitis; pengalaman Maryam tidak dijadikan bukti ilmiah bagi salah satu klaim.
Judul novel itu merangkum godaan tersebut dalam dua kata: “mendatangkan” dan “mengembalikan”. Seakan-akan apa yang hilang bisa dihadirkan hanya dengan memintanya. Padahal hati yang kita tunggu menyimpan ingatan dan keputusan yang tidak tampak dalam rumusan iklan. Pertanyaan sastranya bermula dari harga yang kita bayar saat melupakan manusia di balik harapan itu, lalu memandangnya sekadar sebagai hasil yang ingin kita pastikan.
Dari sudut pandang ini, artikel tentang eksploitasi atas nama penyembuhan spiritual melanjutkan pembahasan tentang batas pertolongan ketika berkaitan dengan kepatuhan dan ketakutan. Namun pertanyaan dalam tulisan ini tetap tertuju kepada janji itu sendiri: apa yang dapat dibuktikan oleh pemberi janji sebelum kita memercayakan harapan kita kepadanya?
Apa yang dapat Anda lakukan sekarang?
Jika Anda sedang menunggu pesan, mulailah dari apa yang Anda ketahui tentang hubungan tersebut, bukan dari janji perantara yang tidak dikenal. Sebutkan penyebab perselisihan sejauh Anda mampu, tentukan apa yang dapat Anda perbaiki, lalu pilih saat yang tepat untuk berkomunikasi secara jelas jika pihak lain memang menghendaki komunikasi. Mediasi oleh orang bijaksana yang mengenal kedua pihak dan menjaga privasi mereka mungkin juga bermanfaat.
Jika Anda telah membayar demi janji bahwa seseorang akan kembali, tinjau kembali kesepakatan dan apa yang sungguh terjadi sebelum menerima permintaan baru. Simpan percakapan dan bukti pembayaran, dan jangan jadikan uang yang sudah dikeluarkan sebagai alasan yang cukup untuk mengeluarkan lebih banyak lagi. Ancaman atau pemerasan memerlukan pertolongan tepercaya yang sesuai dengan tempat tinggal dan keadaan Anda.
Jika perdamaian masih mungkin, tandanya terlihat pada tindakan yang dapat disebutkan dengan jelas: permintaan maaf yang sampai, perilaku menyakiti yang berhenti, tanggung jawab yang dipikul, dan percakapan yang menjadi lebih jernih. Semua ini layak diberi waktu dan usaha. Sebaliknya, penantian tanpa batas yang harus dibayar lagi setiap kali janji tidak terpenuhi patut mendorong kita meninjau janjinya sebelum kembali membayar.
Orang yang pergi mungkin kembali; mungkin pula kisah itu berakhir bukan seperti yang Anda harapkan. Dalam kedua keadaan tersebut, hidup Anda tetap berharga dan tidak seharusnya seluruhnya ditunda demi sebuah notifikasi di layar.
Sumber dan rujukan
- [1] Abdul Aziz bin Baz. “Hukum praktik yang membuat perempuan mencintai laki-laki dan sebaliknya”, fatwa no. 24611. Sumber resmi.
- [2] Sunan Abi Dawud, no. 3883. Hadis dari Ibnu Mas’ud tentang rukiah, jimat, dan tiwalah; dinilai sahih oleh al-Albani dalam takhrij yang dirujuk. Penilaian kesahihan dinisbahkan kepada ulama yang menyatakannya. Teks dan takhrij.
- [3] Sahih Muslim, no. 2200. Hadis Auf bin Malik al-Asyja’i: «لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ» (tidak mengapa melakukan rukiah jika tidak mengandung syirik). Teks dan rujukan.
- [4] Jennifer A. Whitson dan Adam D. Galinsky (2008). Lacking Control Increases Illusory Pattern Perception. Science, 322(5898), 115–117. DOI: 10.1126/science.1159845. Ringkasan penelitian digunakan untuk menjelaskan hasil dan batas penerapannya; penelitian ini tidak menguji pelet cinta. Abstrak dan metadata; Catatan universitas.
- [5] Al-Qur’an, An-Nisa: 35. Teks ayat Arab dipertahankan dari sumber. Teks ayat.
- [6] Al-Qur’an, Al-Baqarah: 231. Teks ayat Arab dipertahankan dari sumber. Teks ayat.
- [7] Ahmed Alhafiz. «أم عباس لجلب الحبيب وردّ المطلّقة» (Umm Abbas). Bab ketujuh, “أمك فتحت الخوف”, khususnya adegan setelah pemeriksaan dokter dan perdebatan keluarga, hlm. 121–128 pada naskah penulis 324 halaman yang dirujuk teks Arab. Nomor halaman hanya berlaku pada versi tersebut. Rujukan sastrawi, bukan bukti klaim medis atau gaib. Halaman novel.
- [8] Michael I. Norton dan Francesca Gino (2014). Rituals Alleviate Grieving for Loved Ones, Lovers, and Lotteries. Journal of Experimental Psychology: General, 143(1), 266–272. DOI: 10.1037/a0031772. Terbit secara daring 11 Februari 2013; masuk edisi Februari 2014. Digunakan abstraknya untuk menjelaskan temuan dan batas klaim. Abstrak dan metadata; Arsip Harvard.
Alhafiz, Ahmed. “جلب الحبيب وردّ المطلّقة: هل ينجح سحر المحبة وما حكمه؟”. 27 Oktober 2026. https://ahmedalhafiz.com/articles/love-magic-reconciliation-ruling/