Penipuan Berkedok Ruqyah: Tanda dan Cara Melindungi Pasien
Penipuan berkedok ruqyah dikenali melalui perilaku yang melanggar batas: ancaman, pemaksaan, sentuhan tanpa persetujuan, biaya yang terus meningkat, atau larangan mencari dokter. Nama agama tidak membenarkan tindakan tersebut. Lima batas dalam artikel ini membantu keluarga menilai kebebasan pasien, kejelasan klaim, perlindungan tubuh, kelanjutan perawatan, dan pertanggungjawaban praktisi.
Persetujuan bukan sekadar diam: Persetujuan harus bebas, berdasarkan informasi, dan dapat ditarik; rasa takut, ancaman, dan relasi kuasa dapat merusaknya.
Tidak boleh memonopoli tafsir: Orang yang selalu menafsirkan semua gejala demi kepentingannya dan melarang pendapat kedua membangun ketergantungan, bukan perawatan.
Agama dan kedokteran tidak harus bertentangan: Dukungan agama sukarela dapat berjalan bersama pelayanan kesehatan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan yang diperlukan atau pertolongan darurat.
Kekerasan tetaplah kekerasan: Sentuhan seksual, isolasi, atau pemukulan tidak menjadi sah hanya karena pelakunya menyebutnya pengobatan.
Mengapa keluarga yang ketakutan mudah dieksploitasi?
Kemunculan gejala yang belum jelas dapat mendorong keluarga mencari jawaban secepat mungkin. Eksploitasi bermula ketika praktisi memonopoli penafsiran: perbaikan dianggap keberhasilannya, perburukan dianggap perlawanan, dan keberatan dianggap penegasan klaimnya. Penolakan pasien pun kehilangan makna. Artikel ini berfokus pada pengujian perilaku dan batas praktisi; proses perubahan ketakutan keluarga menjadi penyerahan wewenang dibahas lebih jauh dalam tulisan pendamping tentang rasa takut sebelum diagnosis.
Dukungan rohani, ruqyah, dan pengobatan: apa bedanya?
Dukungan rohani bisa berbentuk doa, bacaan agama, zikir, percakapan dengan orang tepercaya, serta pendampingan dari keluarga atau komunitas keagamaan. Manfaat yang mungkin diperoleh berupa ketenangan, makna, dan rasa memiliki tidak menjadikannya diagnosis medis.
Pada dasarnya, ruqyah berupa bacaan dan doa. Dalam Sahih Muslim terdapat sabda: «اعرضوا علي رقاكم، لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك» (“Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku; tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik”). [11] Teks itu memberikan batas dari segi akidah, tetapi tidak memberikan izin praktik medis kepada setiap orang yang menamai dirinya peruqyah, apalagi membenarkannya menyentuh, mengisolasi, atau memeras orang. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa pengetahuan tentang yang gaib milik Allah: ﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾. Maknanya: “Katakanlah: Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” [9]
Pengobatan medis atau psikologis merupakan klaim profesional yang dapat dipertanggungjawabkan: ada diagnosis, manfaat dan risiko, alternatif, catatan, dan batas kompetensi. Siapa pun yang mengaku mengobati epilepsi, psikosis, depresi, infertilitas, atau kanker memasuki ranah yang memerlukan keahlian, bukti, dan pengawasan, apa pun bahasa agama yang digunakannya.
Berbagai jalur dapat berjalan berdampingan: pasien menjalani pengobatan, berkonsultasi dengan spesialis, serta berdoa atau meminta pembacaan sukarela dari orang yang dapat dipercaya. Masalah bermula ketika jalur tanpa pengawasan mengambil alih seluruh keputusan atau menggambarkan penerimaan perawatan medis sebagai kekurangan iman.
Uji lima batas
Alih-alih hanya bertanya “Apakah penyembuh ini terkenal?” atau “Apakah ia membaca Al-Qur’an?”, ajukan lima pertanyaan yang jawabannya dapat diamati. Kerangka ini tidak mendiagnosis niat seseorang; kerangka ini menilai keamanan hubungan pertolongan.
1. Kebebasan untuk mengundurkan diri
Bisakah pasien menghentikan sesi dan pergi tanpa ancaman atau penghinaan? Bisakah ia menolak latihan, bacaan, atau sentuhan? Persetujuan yang sah, menurut prinsip pelayanan kesehatan, mesti diberikan secara sukarela dan berdasarkan informasi, dengan kemampuan untuk mengambil keputusan. [5] Jika dikatakan bahwa penolakannya menjadi bukti kerasukan, setiap kata “tidak” telah diubah menjadi alat melawannya, dan persetujuan pun lenyap.
2. Kejelasan klaim
Apakah praktisi menjelaskan dengan jernih apa yang dilakukannya dan batasnya? Ataukah ia mengaku pasti mengetahui penyebab gaib dan nama pelaku yang tidak bisa diuji? Apakah ia menjanjikan hasil yang pasti? Lembaga kesehatan memperingatkan produk dan praktik yang dipasarkan sebagai solusi ajaib atau “obat bagi segala sesuatu”; janji menyeluruh, hasil instan, dan kerahasiaan merupakan tanda penipuan kesehatan. [6]
3. Perlindungan tubuh dan privasi
Apakah praktik dilakukan di tempat terbuka dan aman, dengan pendamping yang dipilih pasien bila diperlukan? Apakah praktisi menghindari berduaan, sentuhan, membuka tubuh, serta perekaman? Dalam hadis sahih ada larangan bagi lelaki berduaan dengan perempuan tanpa mahram. [12] Terlepas dari jenis kelamin, tidak seorang pun berhak menyentuh bagian intim atau memaksa seseorang membuka tubuh atas nama mengeluarkan gangguan tersembunyi.
4. Kelanjutan perawatan medis
Apakah praktisi menyarankan dokter ketika terjadi hilang kesadaran, kejang, psikosis, atau nyeri? Ataukah ia memerintahkan penghentian obat serta pemeriksaan? Pemeriksaan medis tidak mengadili keyakinan; pemeriksaan mencari penyebab yang dapat diobati dan risiko mendesak. Gejala mungkin berasal dari saraf, jantung, metabolisme, atau psikologis, dan beberapa penyebab dapat hadir sekaligus. Menunda pemeriksaan dapat mengubah kondisi yang bisa diobati menjadi kerusakan permanen.
5. Akuntabilitas
Apakah identitasnya nyata, biayanya jelas, ada kuitansi, batas layanan diumumkan, serta tersedia mekanisme pengaduan? Atau uang diminta secara tunai tanpa bukti, pertanyaan dilarang, dan harga berubah setiap kali muncul “lapisan” baru? Layanan yang menolak saksi, catatan, dan pendapat kedua memberikan kekuasaan tanpa konsekuensi kepada penyedianya.
| Aspek | Dukungan rohani yang lebih aman | Tanda eksploitasi atau bahaya |
|---|---|---|
| Persetujuan | Permintaan yang jelas, penerimaan bebas, dapat berhenti | Ancaman, tekanan keluarga, atau penolakan dianggap bukti sakit |
| Klaim | Doa dan pendampingan yang mengakui batas | Kepastian perkara gaib, menyebut “pelaku”, atau menjamin kesembuhan |
| Tubuh | Tidak menyentuh atau membuka tubuh tanpa kebutuhan, persetujuan, dan batas profesional | Berduaan, sentuhan intim, pemukulan, pengikatan, perekaman, atau penghinaan |
| Kedokteran | Tidak menentang pemeriksaan atau pengobatan resep | Menghentikan obat, melarang dokter, atau menyebut setiap hasil sebagai konspirasi |
| Uang | Biaya diketahui, wajar, dan dapat didokumentasikan | Tagihan meningkat, tekanan waktu, utang, atau menjual “bahan rahasia” |
| Pertanggungjawaban | Identitas, saksi, catatan, dan jalur pengaduan | Kerahasiaan absolut serta ketergantungan pada satu orang |
Bagaimana pemaksaan bekerja tanpa ikatan yang terlihat?
Pemaksaan tidak hanya berupa pemukulan. Ia bisa berbentuk ancaman bahwa pasien akan binasa jika pergi, bahwa keluarganya akan tertimpa bahaya, atau bahwa mengungkap peristiwa akan “membatalkan pengobatan”. Bisa pula berupa tekanan agama: orang yang meragukan dianggap lemah iman, dan yang meminta dokter dianggap membantu “setan”. Tekanan ekonomi juga mungkin terjadi: sudah terlalu banyak uang dibayar sehingga keluarga sulit mengakui bahwa jalurnya salah.
Panduan kesehatan mental serta hak asasi manusia yang mutakhir menekankan pentingnya penghormatan terhadap kehendak dan pilihan, pengurangan pemaksaan, dan pembangunan layanan komunitas yang melindungi martabat alih-alih menguasai. [1] [2] Prinsip tersebut tidak khusus untuk rumah sakit; ia juga ukuran etis yang berguna bagi siapa pun yang berhadapan dengan seseorang yang berada dalam keadaan rentan.
Bahaya dapat meningkat, misalnya ketika pasien masih anak-anak, untuk sementara tidak mampu mengambil keputusan, bergantung secara finansial pada keluarga, atau mengalami psikosis atau disabilitas. Diagnosis atau disabilitas saja tidak menentukan kemampuan seseorang mengambil keputusan. Kewenangan wali dan keluarga bertujuan melindungi, bukan menyerahkan tubuh seseorang kepada pihak yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.
Kapan “pemeriksaan” atau “pengobatan” merupakan penyerangan?
Jika sentuhan, pembukaan tubuh, memasukkan sesuatu, atau paksaan melakukan tindakan seksual terjadi tanpa persetujuan bebas, tindakan itu bukan teknik pengobatan hanya karena pelakunya menamakannya demikian. WHO mendefinisikan kekerasan seksual secara luas, termasuk tindakan dan percobaan tindakan seksual melalui pemaksaan, tanpa memandang hubungan antara pelaku dan korban. [4]
Kekuasaan spiritual dapat membuat korban membeku, patuh, atau tidak berteriak. Tidak melawan bukan berarti setuju; takut disalahkan atau dipermalukan dapat menunda keberanian untuk berbicara. Respons pertama keluarga seharusnya bukan interogasi atau pertanyaan “Mengapa kamu setuju?”, melainkan mendengarkan, memercayai pengakuan sejauh diperlukan demi perlindungan, tidak menyalahkan, dan menawarkan pilihan nyata.
Pedoman WHO mengenai respons pertama kepada perempuan yang mengalami kekerasan pasangan atau kekerasan seksual menganjurkan dukungan yang berpusat pada mendengar tanpa tekanan, menanyakan kebutuhan, memercayai dan tidak menyalahkan, meningkatkan keselamatan, serta menghubungkan penyintas dengan dukungan. [3] Ini tidak menjadikan keluarga penyidik atau hakim; perannya adalah mencegah bahaya dan menjaga hak korban atas perawatan serta pelaporan.
Bagaimana eksploitasi finansial terlihat?
Tidak semua biaya merupakan penipuan, tetapi pola penagihannya mengungkap hubungan. Jumlahnya mungkin mulai kecil, lalu tiba-tiba muncul masalah “yang lebih kuat” dan memerlukan sesi, dupa, air, atau jimat yang lebih mahal. Bila keluarga hendak berhenti, mereka diancam bahwa uang yang telah dibayarkan akan sia-sia atau bahaya kembali lebih berat. Ada pula permintaan menjual emas atau berutang karena waktu disebut “sudah sangat mendesak”.
Langkah perlindungannya sederhana: minta harga tertulis sebelum layanan, jangan terima janji pasti, jangan membayar di bawah ancaman, jangan transfer kepada identitas tak dikenal, dan jangan membeli bahan dengan komposisi yang tidak diketahui pasien. Bahan apa pun yang diminum, dibakar, atau dioleskan ke kulit dapat berisiko menyebabkan keracunan, alergi, atau interaksi obat. Simpan kemasannya dan konsultasikan dengan apoteker atau dokter jika sudah digunakan.
Mengapa diagnosis medis atau psikologis tidak boleh dihalangi?
Gejala yang ditafsirkan keluarga secara spiritual mungkin memiliki penyebab medis yang perlu ditemukan tepat waktu: kejang epileptik atau fungsional, gangguan tidur, infeksi, gangguan kelenjar, keracunan, efek obat, depresi berat, gangguan bipolar, psikosis, atau trauma. Tidak ada artikel, peruqyah, atau model AI yang mampu mendiagnosis semua itu dari cerita singkat.
Hubungannya tidak selalu “organik atau psikologis”. Penyakit saraf dapat hadir bersama kecemasan, atau penyakit mental dapat berdampingan dengan pengalaman keagamaan yang berarti bagi pasien. Perawatan yang baik menghormati keyakinan pasien tanpa menjadikannya pengganti pemeriksaan risiko. Tinjauan sistematis Green dan Colucci (2020) merangkum pandangan praktisi mengenai kerja sama, kemungkinan manfaat yang mereka persepsikan, serta kekhawatiran tentang keselamatan dan hak pasien. Sebagian besar studi yang dihimpun berasal dari Afrika. Temuan tersebut mendukung pembahasan komunikasi dan rujukan, tetapi tidak membuktikan efektivitas semua praktik atau dapat langsung digeneralisasi ke Indonesia. [8]
Jika seseorang menggunakan obat, jangan hentikan tiba-tiba atas keputusan nonmedis. Sejumlah obat dapat menimbulkan gejala putus obat, kekambuhan, atau kejang. Kekhawatiran agama dan efek samping dapat dibicarakan dengan dokter serta dimintakan pendapat kedua, tetapi keputusan perlu berlandaskan diagnosis, dosis, dan risiko yang diketahui.
Rencana tujuh langkah untuk melindungi keluarga
1. Pisahkan keselamatan dari perdebatan mengenai penyebab
Keluarga tidak perlu memastikan adanya penyebab supranatural sebelum melindungi seseorang. Cukup katakan: “Kita mungkin berbeda pendapat mengenai penjelasan, tetapi kita tidak membolehkan pemukulan, berduaan secara tertutup, larangan dokter, ataupun menyentuh tubuh tanpa persetujuan.”
2. Hentikan sesi pada pelanggaran pertama
Bila muncul ancaman, sentuhan, pengikatan, bahan yang tidak dikenal, atau larangan keluar, tinggalkan tempat ketika hal itu aman. Jangan masuk ke perdebatan panjang dengan seseorang yang memegang kuasa atau dikelilingi pengikutnya.
3. Periksa bahaya yang mendesak
Hubungi layanan darurat bila kesadaran sangat terganggu, terjadi cedera, kemungkinan keracunan, kejang panjang, bahaya bunuh diri atau kekerasan, kesulitan bernapas, atau perburukan akut. Setelah kekerasan seksual, segera cari layanan medis khusus; beberapa pilihan perawatan dan pemeriksaan bukti bergantung pada waktu. Jika ingin menjaga bukti, mintalah petunjuk sebelum mandi atau mengganti pakaian bila memungkinkan. Tetap cari bantuan meskipun sudah mandi atau berganti pakaian. [13]
4. Dokumentasikan tanpa menyebarkan
Tuliskan tanggal, waktu, apa yang dikatakan dan dilakukan, identitas saksi, pembayaran, pesan, serta bahan yang digunakan. Simpan foto dan pesan di tempat aman. Jangan menyebarkan tuduhan di media sosial; dokumentasi untuk membantu dokter, instansi berwenang, serta proses penyelidikan, bukan mempermalukan atau menekan korban.
5. Mintalah evaluasi independen
Mulailah dengan dokter atau layanan psikologis atau neurologis sesuai gejala, dan sebutkan semua bahan, sesi, serta obat. Jika profesional pertama tidak mau mendengar atau mengejek keyakinan, carilah pendapat kedua alih-alih kembali kepada orang yang melarang seluruh pengobatan.
6. Kembalikan suara kepada pasien
Tanyakan apa yang ia butuhkan dan siapa yang diinginkannya untuk mendampingi. Jangan paksa mengulangi cerita di depan kerabat dan jangan menjadikan keputusan melapor sebagai ujian keberanian. Bila orang tersebut belum mampu mengambil keputusan atau masih anak-anak, lembaga perlindungan dan hukum setempat menentukan intervensi yang sesuai.
7. Laporkan kepada pihak yang mampu melindungi
Bergantung pada negara, usia, dan risiko, pihak tersebut bisa polisi, layanan perlindungan anak atau orang dewasa, asosiasi profesi, pusat penanganan kekerasan seksual, atau rumah sakit. Kewajiban melapor berbeda menurut hukum, sehingga artikel ini tidak memberikan putusan hukum umum. Namun, kerahasiaan yang melindungi pelaku bukan kewajiban agama maupun pengobatan.
Bahasa seperti apa yang membantu pasien?
Hindari dua kalimat yang saling berlawanan: “Semua yang kamu rasakan cuma khayalan” dan “Semua yang terjadi pasti sihir”. Yang pertama meremehkan pengalaman dan dapat mendorong orang mencari orang yang menjanjikan akan memercayainya; yang kedua menutup jalan pemeriksaan serta menambah ketakutan. Alternatifnya: “Kami percaya kamu sedang menderita. Kami belum tahu penyebabnya, tetapi kami akan memeriksa kemungkinan yang ada dan melindungimu dari orang yang melanggar batasmu.”
Jangan gunakan agama untuk membungkam pasien, atau kedokteran untuk menghina imannya. Ia dapat membaca dan berdoa atas pilihannya sendiri sambil menerima perawatan profesional. Perbedaan menghormati dan menerima setiap penafsiran tanpa syarat ialah bahwa penghormatan menjaga manusia, sedangkan diagnosis membutuhkan bukti.
Apakah ruqyah mandiri lebih aman?
Membaca ayat dan berdoa sendiri dapat mengurangi ketergantungan kepada pihak berkuasa serta tidak memerlukan berduaan, sentuhan, atau pembayaran. Al-Qur’an menyebut Al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang beriman. [10] Namun, ruqyah mandiri bukan pengganti pertolongan darurat atau pengobatan penyakit yang telah didiagnosis; ia juga tidak seharusnya menjadi pengulangan kompulsif yang meningkatkan kecemasan atau ujian yang menyalahkan orang bila tidak membaik.
Pertanyaan dan keberatan yang sering diajukan
Apakah memperingatkan tentang penipuan merupakan serangan terhadap ruqyah?
Tidak. Pembedaan justru melindungi praktik agama agar tidak menjadi kedok pemerasan. Bacaan sukarela yang tidak mengandung syirik, penyerangan, atau klaim kompetensi medis sangat berbeda dari kekuasaan yang menahan, menyentuh, dan melarang perawatan.
Bagaimana bila pasien benar-benar membaik setelah sesi?
Perbaikan dapat nyata, mungkin karena rasa tenang, episode yang berlalu, perubahan tidur, pengaruh harapan, atau perawatan yang berlangsung bersamaan. Satu pengalaman tidak membuktikan diagnosis ataupun membenarkan pelanggaran batas. Standar etis tetap berlaku meskipun ada perbaikan.
Bagaimana bila praktisi berkata tidak meminta uang?
Ketiadaan biaya tidak meniadakan eksploitasi; tujuannya mungkin kekuasaan, reputasi, akses seksual, atau ketergantungan. Karena itu pengujian mencakup tubuh, pilihan, perawatan medis, dan pertanggungjawaban, bukan hanya bayaran.
Apakah adanya pendamping membuat sesi otomatis aman?
Pendamping mungkin mengurangi sebagian risiko, tetapi tidak menghapus semuanya. Ia bisa ketakutan, sudah sangat percaya, atau menjadi bagian dari tekanan. Persetujuan, larangan sentuhan yang tak disetujui, kelanjutan perawatan, dan hak untuk pergi tetap menjadi syarat tersendiri.
Apakah semua penyembuh tradisional merugikan?
Tidak. Praktiknya sangat beragam; sebagian pelakunya mungkin memberikan dukungan dan rujukan yang bermanfaat. Generalisasi tidak ilmiah, sebagaimana kepercayaan buta. Yang dibutuhkan ialah penilaian terhadap perilaku, batas, dan hasil.
Kesimpulan
Keluarga tidak melindungi anggotanya yang sakit dengan memilih penjelasan cepat, melainkan dengan membangun batas yang tidak ditelan rasa takut. Doa dan ruqyah sukarela dapat tetap menjadi ruang iman, dokter menjadi ruang diagnosis dan pengobatan, dan hukum menjadi ruang perlindungan serta pertanggungjawaban. Tidak satu pun harus menghapus yang lain.
Uji lima batas memberikan pedoman yang dapat diterapkan: bisakah orang tersebut mundur, apakah klaim jelas dan terbatas, apakah tubuh dan privasinya dihormati, apakah pelayanan medis berlanjut, dan bisakah praktisinya dimintai pertanggungjawaban? Bila batas-batas ini runtuh, persoalannya bukan sekadar “perbedaan keyakinan”, melainkan risiko yang menuntut penghentian, perlindungan, dokumentasi, serta bantuan independen.
Para pengeksploitasi paling berbahaya tidak memulai dengan menyerang; mereka mulai dengan memonopoli makna. Ketika hanya mereka yang berhak menafsirkan rasa sakit, mereka dapat menyebut setiap keberatan sebagai penyakit dan setiap kepatuhan sebagai pengobatan. Mengembalikan hak pasien untuk bertanya, menolak, dan meminta pendapat kedua adalah langkah pertama mengembalikan rasa aman.
Status penelaahan independen
Versi ini belum menjalani penelaahan independen oleh pihak luar atau tenaga ahli. Sumber dan batas metodenya disertakan agar dapat diperiksa dan dikoreksi; tulisan ini tidak boleh dipresentasikan sebagai penelitian akademik yang telah melalui penelaahan sejawat. Penelaahan berikutnya atau koreksi penting dicatat dalam tanggal pembaruan.
Artikel sumber Arab: Alhafiz, Ahmed. «الرقية والدجل: علامات الاستغلال وكيف تحمي المريض؟». Situs resmi Ahmed Alhafiz, 2 September 2026. Teks Arab.
Referensi
- [1] WHO dan OHCHR, “Mental Health, Human Rights and Legislation: Guidance and Practice”, 2023. Rujukan hak dalam kesehatan mental, kehendak, martabat, dan pengurangan pemaksaan.Sumber
- [2] WHO, “Guidance on Community Mental Health Services: Promoting Person-Centred and Rights-Based Approaches”, 2021. Model layanan komunitas berpusat pada individu dan hak.Sumber
- [3] WHO, “Responding to Intimate Partner Violence and Sexual Violence Against Women: Clinical and Policy Guidelines”. Prinsip respons pertama, dukungan, dan keselamatan.Sumber
- [4] WHO, “Violence Against Women — Fact Sheet”. Definisi kekerasan seksual, dampaknya bagi kesehatan, dan kebutuhan respons.Sumber
- [5] NHS, “Consent to Treatment”. Persyaratan persetujuan bebas berdasarkan informasi dan kemampuan mengambil keputusan.Sumber
- [6] US Food and Drug Administration (FDA), “Health Fraud Scams”. Tanda klaim pengobatan menipu serta janji ajaib.Sumber
- [7] Pemerintah Inggris, “Care and Support Statutory Guidance — Safeguarding”. Kerangka kategori kekerasan dan respons perlindungan untuk Inggris (England); digunakan sebagai rujukan analitis, bukan hukum Indonesia.Sumber
- [8] Bethany Green dan Erminia Colucci (2020). Traditional healers’ and biomedical practitioners’ perceptions of collaborative mental healthcare in low- and middle-income countries: A systematic review. Transcultural Psychiatry, 57(1):94–107. DOI: 10.1177/1363461519894396. Tinjauan persepsi kerja sama; bukan bukti bahwa semua metode tradisional efektif. Abstrak dan data publikasi
- [9] Al-Qur’an, Surah An-Naml ayat 65. Pengetahuan tentang yang gaib hanya milik Allah.Sumber
- [10] Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 82. Al-Qur’an disebut sebagai penawar dan rahmat bagi orang beriman.Sumber
- [11] Sahih Muslim 2200, permintaan memperlihatkan ruqyah dan syarat tidak mengandung syirik.Sumber
- [12] Sahih Al-Bukhari 5233, larangan lelaki berduaan dengan perempuan tanpa mahram.Sumber
- [13] NHS, “Help after rape and sexual assault”. Perawatan dan pengumpulan bukti sesegera mungkin; bantuan tetap tersedia setelah mandi atau berganti pakaian. Sumber
Sumber kesehatan serta hak dipakai untuk mendefinisikan persetujuan, keselamatan, dan respons terhadap kekerasan; teks agama dipakai untuk mendokumentasikan batas umum ruqyah, perkara gaib, dan berduaan. Laporan ini tidak memberi fatwa atas kasus individu ataupun putusan pengadilan.