Apa yang Ada Sebelum Big Bang? Batas Pengetahuan Sains

Sains belum mempunyai jawaban empiris yang menentukan tentang apa yang ada sebelum Big Bang. Bukti kuat mendukung sejarah alam semesta yang panas dan mengembang, tetapi tidak menuntaskan semua pertanyaan tentang awal waktu. Model pantulan, batas waktu, dan usulan kuantum perlu dibaca menurut asumsi serta bukti masing-masing, bukan diperlakukan sebagai peristiwa yang sudah disaksikan.

Bab pertama · Alam semesta · Batas model dan kesimpulan

Kita mengetahui banyak hal tentang alam semesta panas yang mengembang dan mendingin. Namun, kata “sebelum” membawa kita ke batas tempat pengamatan langsung berhenti dan berbagai model mulai bersaing. Ketelitian dalam perkara ini bukan upaya menghindari jawaban; justru itulah inti metode ilmiah.

Jawaban langsung

Ilmu pengetahuan belum memiliki jawaban empiris yang pasti tentang apa yang terjadi “sebelum Big Bang”. Bukti-bukti sangat mendukung bahwa alam semesta teramati pernah berada dalam keadaan lebih dini, lebih panas, dan lebih padat, kemudian mengembang serta mendingin. Akan tetapi, bukti itu tidak menjadikan titik matematis yang diasumsikan pada t = 0 sebagai peristiwa yang telah diamati, dan tidak membuktikan bahwa alam muncul dari “ketiadaan” dalam arti filosofis. Pada skala energi Planck, gravitasi diperkirakan memerlukan deskripsi kuantum yang hingga kini belum tuntas. Sejumlah model mengusulkan batas yang membuat pertanyaan tentang waktu sebelumnya tidak bermakna, fase kontraksi yang berakhir dengan pantulan, atau kemunculan kuantum. Belum satu pun memperoleh dukungan pengamatan yang menentukan.

Letak pertanyaan dalam buku Qul Sīrū fī al-Arḍ

Halaman 22–25 dan 32–35 buku tersebut membuka pembahasan tentang pemuaian, radiasi latar gelombang mikro, batas model ΛCDM, dan perbedaan antara uraian tentang “bagaimana” alam bekerja dengan pertanyaan mengenai asal dan makna. Dari alur inilah pertanyaan artikel muncul; sedangkan fakta astronomi harus berpijak pada pengukuran dan model yang dipublikasikan.

Ketika astronom mengatakan “Big Bang”

Nama itu sedikit menyesatkan. Big Bang bukan ledakan materi di dalam kehampaan yang telah ada, dari satu titik pusat. Yang dimaksud ialah pemuaian jarak-jarak dalam alam semesta yang dahulu lebih panas dan lebih padat. Semakin jauh persamaan alam yang mengembang kita telusuri ke masa lampau, semakin tinggi suhu dan kepadatannya. Sejumlah jalur bukti bertemu: pergeseran merah galaksi, radiasi latar gelombang mikro kosmik, kelimpahan unsur ringan, dan pembentukan struktur berskala besar. Karena itu, “alam semesta awal yang panas” merupakan hasil yang kuat, bukan cerita dugaan yang berdiri sendiri.

Jika Anda bertanya apa yang sungguh dilihat dan apa yang disimpulkan, perbedaannya penting. Radiasi latar gelombang mikro ialah cahaya yang dilepaskan sekitar 380 ribu tahun setelah fase panas bermula, ketika alam semesta menjadi transparan; ia bukan foto detik nol. Perbandingan hidrogen, helium, dan unsur ringan menguji fisika pada menit-menit pertama, sementara pergeseran merah galaksi mengungkap pemuaian dalam sejarah yang lebih belakangan. Pertemuan bukti-bukti memperkuat model termal, tetapi tidak mengubah masa-masa yang tidak mengirimkan foton langsung kepada kita menjadi peristiwa yang disaksikan. Penjelasan NASA tentang garis waktu alam semesta memperlihatkan dengan jelas perbedaan antara jejak dan peristiwa.

Kekuatan bukti tersebut tidak otomatis berlaku pada setiap penjelasan tentang saat paling awal. Ketika persamaan relativitas umum digunakan untuk menelusuri masa mendekati waktu Planck, sekitar 10⁻⁴³ detik dalam skala konvensional hipotetis, kita sampai pada ranah tempat gravitasi diperkirakan berjalin dengan efek kuantum. Angka itu menunjukkan batas penjelasan kita sekarang, bukan jam yang pernah mengukur terjadinya penciptaan.

Empat lapisan yang sering tercampur

Lapisan Kedudukan ilmiahnya Apa yang tidak dibuktikannya
Alam semesta panas yang mengembang Didukung banyak bukti pengamatan Tidak sama dengan penciptaan dari ketiadaan
Inflasi kosmik Keluarga model yang menjelaskan sejumlah ciri struktur awal; mekanismenya belum pasti Tidak dengan sendirinya menentukan awal mutlak
Singularitas klasik Batas yang muncul dalam solusi relativitas dengan syarat tertentu Bukan benda atau momen yang pernah diamati
Gravitasi kuantum Program dan model yang masih bersaing Belum tersedia model yang teruji tentang apa yang “sebelum”

Inflasi merupakan nama bagi satu keluarga gagasan tentang pemuaian yang sangat dipercepat pada tahap lebih awal daripada fase panas yang telah kita pahami dengan baik. Model-model tertentu dapat menghasilkan bibit ketidakseragaman yang kemudian tumbuh menjadi galaksi; sejumlah ramalan umumnya sesuai dengan peta radiasi latar gelombang mikro. Namun, kesesuaian itu tidak menentukan medan fisika penyebabnya dan tidak membuktikan bahwa satu skenario terperinci tertentu sungguh terjadi. NASA juga menyatakan bahwa mekanisme fisiknya masih belum diketahui. Oleh karena itu, “alam semesta bermula dengan inflasi” tidak boleh disajikan sebagai deskripsi observasional tentang momen pertama.

Batas yang kita lihat dan batas yang kita hitung

Pertanyaan “apa yang terjadi sebelumnya?” tampak seperti satu pertanyaan, padahal menyembunyikan tiga batas yang berbeda. Batas penglihatan adalah radiasi elektromagnetik tertua yang secara langsung mencapai kita, yakni radiasi latar gelombang mikro, setelah alam semesta cukup mendingin sehingga cahaya dapat menempuh jarak besar. Batas rekonstruksi lebih awal lagi: fisika menit-menit pertama kita simpulkan dari perbandingan unsur ringan, dan keadaan yang lebih tua dari pola radiasi latar, dengan bantuan hukum yang diuji di bidang lain. Sementara itu, batas berlakunya teori adalah titik ketika ekstrapolasi menggunakan persamaan yang ada tidak lagi dapat diandalkan. Ketiga batas ini tidak jatuh pada satu saat yang sama.

Bayangkan seorang sejarawan menemukan surat bertanggal, catatan administratif yang lebih tua, lalu menyimpulkan dari cara penulisannya bahwa suatu sekolah telah ada sebelum keduanya. Surat adalah sesuatu yang ia baca; catatan adalah saksi lain; sekolah adalah penjelasan yang kekuatan buktinya dapat berbeda-beda. Tidak adanya lembar “pertama” tidak berarti sejarah kota dimulai pada tanggal surat itu; tetapi juga tidak membenarkannya mengarang kisah yang pasti tentang masa sebelum arsip. Dalam kosmologi, instrumennya berbeda, namun kewajiban membedakan bukti, kesimpulan, dan pertanyaan terbuka tetap sama.

Karena itu, pengamatan langsung terhadap radiasi latar tidak mengatakan secara langsung apakah ada atau tidak ada fase sebelum inflasi. Kemungkinannya diuji melalui usulan teoretis serta jejak-jejak yang mungkin ditinggalkannya, jika jejak tersebut dapat dibedakan dari model saingan.

Ada pula perbedaan halus antara “awal fase panas yang kita kenal” dan “awal segala bentuk waktu yang mungkin”. Yang pertama merupakan objek penelitian fisika terperinci. Yang kedua menuntut pengetahuan tentang struktur waktu pada batas tempat teori gravitasi klasik mungkin tidak lagi berlaku. Ketidaktahuan besar tentang persoalan kedua tidak membatalkan bukti kuat untuk persoalan pertama. Begitu juga, keberhasilan model yang pertama tidak memberi hak untuk menganggap pertanyaan kedua telah terjawab. Garis waktu NASA dan cakupan teorema BGV menjelaskan mengapa pemisahan ini diperlukan.

Apakah singularitas berarti waktu bermula?

Ketika sebagian solusi relativitas umum ditelusuri ke masa lampau, besaran seperti kepadatan dan kelengkungan dapat menuju tak terhingga, sementara lintasan tidak lagi dapat diperpanjang. Keadaan semacam ini dibahas sebagai singularitas. Secara teknis, kriteria yang paling luas dipakai menekankan lintasan geodesik yang tidak lengkap dan tidak dapat diperpanjang, bukan semata-mata nilai kelengkungan yang menjadi tak terhingga. Namun, singularitas bukan titik mungil yang fisikanya telah diketahui; ia merupakan tanda bahwa penjelasan klasik kehilangan daya berlakunya. Sebagaimana kegagalan suatu persamaan ketika penyebutnya nol tidak dengan sendirinya menceritakan keadaan dunia, ketakterhinggaan dalam teori klasik tidak langsung memberitahu kita apa yang benar-benar terjadi.

Teorema singularitas menghasilkan kesimpulan yang kuat apabila syarat-syarat geometris dan fisik terpenuhi. Namun, teorema itu tidak menyajikan teori gravitasi kuantum. Dengan demikian, ada dua pembacaan yang tidak boleh dicampuradukkan: batas tersebut mungkin mencerminkan awal waktu yang nyata, atau mungkin menjadi pintu menuju penjelasan yang lebih dalam sehingga singularitas hilang. Menentukan mana yang benar memerlukan teori dan pengujian, bukan pilihan istilah.

Apa yang dibuktikan teorema BGV, dan apa yang tidak?

Borde, Guth, dan Vilenkin menunjukkan bahwa suatu ruang-waktu kosmologis dengan laju pemuaian rata-rata positif sepanjang lintasan ke arah masa lampau tidak dapat lengkap ke masa lampau sepanjang lintasan itu. Hasil tersebut penting karena tidak bergantung pada syarat-syarat energi konvensional yang sama, serta mencegah bentuk-bentuk tertentu inflasi abadi dianggap sebagai penjelasan yang sudah mencukupi dengan sendirinya sampai masa lampau tanpa batas.

Akan tetapi, “tidak lengkap ke masa lampau” tidak berarti “diciptakan dari ketiadaan”. Artinya deskripsi geodesik yang digunakan tidak dapat diperpanjang tanpa batas, dan diperlukan fisika lain pada tepian itu. Teorema tersebut tidak menentukan sifat fisika yang dimaksud, tidak menyingkirkan semua model alam semesta yang memantul atau muncul dari fase lain, dan tidak mengubah konsep ketiadaan metafisis menjadi variabel yang dapat diukur. Memakainya sebagai bukti empiris yang lengkap tentang penciptaan ataupun sebagai bantahan terhadap iman sama-sama melampaui maknanya.

Makalah asli Borde, Guth, dan Vilenkin merumuskan hasilnya sebagai ketidaklengkapan lintasan yang menyerupai waktu atau cahaya ke arah masa lampau pada model yang mengembang secara memadai; mereka menyatakan bahwa inflasi membutuhkan fisika lain pada salah satu batasnya. “Membutuhkan fisika lain” bukan nama bagi ketiadaan filosofis dan bukan penetapan bahwa semua kemungkinan sejarah berakhir pada satu titik. Ketidaklengkapan lintasan dalam gambaran geometris juga tidak langsung menjawab apakah waktu benar-benar memiliki batas atau perlu didefinisikan ulang di sana. Karena itu, syarat laju pemuaian rata-rata dan jenis lintasan harus disebut ketika teorema tersebut dibahas dalam perdebatan teologis. Abstrak makalah aslinya menunjukkan ruang lingkup hasil tersebut.

Apa yang diajukan berbagai model mengenai “sebelum”?

Usulan tanpa batas (no-boundary): dalam sejumlah formulasi Hartle dan Hawking, sejarah kosmik dini menyerupai permukaan halus yang tidak memiliki batas waktu klasik di belakangnya. “Tanpa batas” tidak berarti tiadanya penjelasan, tetapi berubahnya struktur pertanyaan dalam suatu model kuantum alam semesta.

Model pantulan: dalam beberapa penerapan kosmologi kuantum loop, efek geometri kuantum menggantikan singularitas dengan suatu pantulan yang menghubungkan fase kontraksi dan fase pemuaian. Hasilnya kuat di dalam model sederhana tertentu, tetapi belum menjadi sejarah alam semesta teramati yang teruji. Peralihan dari model homogen menuju alam semesta penuh dan penarikan jejak observasional yang khas tetap menjadi objek penelitian.

Model siklik dan emergen: model-model ini mengusulkan siklus atau keadaan panjang sebelum pemuaian panas. Mereka menghadapi pertanyaan mengenai stabilitas, entropi, serta pembentukan spektrum gangguan. Adanya persamaan yang mungkin diterapkan tidak sama dengan terbuktinya skenario tersebut di alam.

Kelahiran atau tunneling kuantum: terkadang digambarkan dengan ungkapan “alam semesta dari ketiadaan”. Namun, “ketiadaan” dalam formulasi itu bisa berarti keadaan kuantum atau tidak adanya ruang-waktu klasik dalam suatu hukum matematis, bukan ketiadaan mutlak tanpa hukum ataupun kemungkinan. Oleh sebab itu, istilah dari makalah fisika tidak boleh begitu saja dipindahkan ke filsafat tanpa definisi.

Mungkinkah kata “sebelum” tidak memiliki makna?

“Sebelum” adalah hubungan waktu. Jika waktu fisik itu sendiri memiliki batas, pertanyaan “apa yang terjadi sebelumnya?” kira-kira serupa—hanya sebagai perumpamaan—dengan pertanyaan apa yang terletak di utara Kutub Utara. Susunan kalimatnya benar, tetapi koordinat yang dipakai telah berakhir. Ini salah satu kemungkinan, bukan fakta yang telah dibuktikan. Jika waktu muncul dari struktur yang lebih dalam, mungkin terdapat urutan terdahulu yang bukan “waktu” dalam pengertian sehari-hari. Jika pernah terjadi pantulan kosmik, pertanyaan itu memiliki makna temporal di dalam modelnya.

Dari segi metode, jawabannya bukan bahwa pertanyaan tersebut bodoh, juga bukan bahwa jawaban apa pun dapat diterima. Jawaban yang lebih tepat ialah: makna pertanyaannya bergantung pada teori tentang waktu, sementara teori-teorinya masih bersaing. Ini lebih cermat daripada dua jawaban populer yang bertentangan: “kita tahu pasti sebelumnya tidak ada apa-apa” dan “sains mengetahui dengan pasti adanya alam semesta terdahulu”.

Apakah fisika menciptakan alam semesta dari ketiadaan?

Ketiadaan filosofis bukanlah ruang hampa kuantum. Vakum kuantum memiliki medan, struktur, hukum, dan keadaan-keadaan yang mungkin. Bahkan formulasi yang tidak mengandaikan ruang-waktu klasik masih menggunakan ruang kemungkinan, aksi atau persamaan, serta kaidah perhitungan. Karena itu, eksperimen fisika partikel semata tidak dapat memutuskan pertanyaan: mengapa hukum dan segala kemungkinan itu ada, alih-alih sama sekali tidak ada apa-apa?

Di sisi lain, kita tidak sepatutnya menempatkan “Tuhan pengisi celah” sebagai pengganti teori yang belum diketahui. Kegagalan model sekarang tidak membuktikan mekanisme keagamaan tertentu, dan ditemukannya deskripsi yang lebih dalam tidak menghapus pertanyaan tentang penciptaan. Sebab, argumentasi penciptaan dalam artikel ini tidak bergantung pada celah waktu di dalam persamaan, melainkan menyoal perlunya penjelasan bagi keberadaan dunia dan hukum-hukumnya. Ini merupakan argumentasi filsafat keagamaan, bukan kesimpulan pengamatan yang dipaksakan oleh model alam semesta panas. Seseorang dapat beriman kepada alam yang memiliki permulaan atau kepada waktu yang diciptakan dengan struktur batas yang belum kita pahami. Sebuah persamaan tidak berubah menjadi pencipta hanya karena menggambarkan keteraturan.

Apa yang dikatakan Al-Qur’an, dan apa yang tidak dikatakannya?

Allah berfirman: ﴿أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا﴾ [Al-Anbiyā’: 30]. Ayat ini memuat gambaran keadaan menyatu dan terpisah. Para mufasir menyampaikan beberapa makna, antara lain langit dan bumi dahulu tersambung lalu dipisahkan, atau langit tertutup dari hujan dan bumi tertutup dari tumbuh-tumbuhan lalu keduanya dibuka. Keragaman historis penafsiran tersebut mencegah penyempitan lafaz menjadi satu istilah kosmologi modern.

Makna kutipan, diterjemahkan untuk artikel ini: “Tidakkah orang-orang yang ingkar mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, lalu Kami pisahkan keduanya?”

Ini bukan berarti semua penafsiran yang diriwayatkan dinilai sama kuat. Setelah mengemukakan pendapat-pendapat tentang penyatuan dan pemisahan serta banyaknya langit, Ath-Thabari mengutamakan makna terbukanya langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Ia berdalil dengan bagian sesudahnya: ﴿وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ﴾. Mufasir lain mungkin memilih sisi yang berbeda, tetapi tidak dibenarkan menghapus pendapat pilihan Ath-Thabari lalu menyajikan pembacaan kosmologis modern sebagai penafsirannya. Teks tafsir Ath-Thabari menunjukkan rincian ini, bukan slogan tentang “kesesuaian” yang sederhana.

Makna kutipan, diterjemahkan untuk artikel ini: “Kami menjadikan segala yang hidup dari air.”

Seorang mukmin dapat menjadikan gambaran pemisahan sebagai bahan renungan ketika memikirkan alam semesta yang berkembang. Namun, tidak tepat menganggap ayat itu memuat inflasi, waktu Planck, atau keputusan mengenai geometri alam semesta. Al-Qur’an mengarahkan pandangan kepada penciptaan dan maknanya; ia tidak menyajikan tabel parameter ΛCDM. Ketika Allah berfirman ﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ [Yā-Sīn: 82], ayat tersebut menetapkan kekuasaan kehendak Ilahi, tanpa meniadakan hukum-hukum dan tahapan yang diteliti sains.

Makna kutipan, diterjemahkan untuk artikel ini: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.”

Pertanyaan Qur’ani ﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾ [Aṭ-Ṭūr: 35] menghadapkan manusia pada persoalan asalnya dan kemampuannya menciptakan diri sendiri. Ayat ini juga tidak tepat dijadikan laporan tentang keadaan fisik sebelum alam semesta: tuturannya bertanya kepada orang yang diajak bicara mengenai penciptaan mereka, bukan menggambarkan vakum kuantum atau persamaan kosmologi. Ayat tersebut membuka penyelidikan rasional mengenai asal keberadaan dan tindakan mencipta, tetapi bukan hasil teleskop. Kekuatan argumentasinya bersifat filosofis dan religius; sementara pengukuran radiasi latar gelombang mikro bertugas menentukan riwayat termal dan parameter model. Kedua tingkat itu dapat disandingkan apabila perbedaannya tetap terlihat.

Makna kutipan, diterjemahkan untuk artikel ini: “Apakah mereka tercipta tanpa pencipta, ataukah mereka sendiri yang menciptakan diri mereka?”

Ketika Al-Qur’an mengajak kita memikirkan permulaan

Hubungan pertanyaan ini dengan judul buku lebih dalam daripada kesamaan kata “permulaan”. Ayat yang menjadi sumber judul itu berbunyi: ﴿قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ﴾ [Al-‘Ankabūt: 20]. Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat itu berbicara kepada orang-orang yang menyangkal kebangkitan dengan berargumentasi dari penciptaan pertama menuju kemampuan untuk menciptakan kembali. Ayat tersebut bukan perintah untuk mengukur detik nol, dan bukan klaim bahwa perjalanan mengamati bumi saja akan membuka rahasia di balik waktu Planck. Temanya adalah kuasa mencipta pertama kali dan mengulanginya; sarananya adalah memperhatikan ciptaan.

Makna kutipan, diterjemahkan untuk artikel ini: “Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu perhatikan bagaimana Dia memulai penciptaan. Kemudian Allah mengadakan penciptaan yang akhir.”

Ketika kita mempelajari radiasi latar kosmik, kita melakukan salah satu bentuk pengamatan terhadap dunia, tetapi tidak menurunkan akidah kebangkitan dari spektrumnya. Tafsir Ath-Thabari terhadap ayat tersebut memperlihatkan kedudukan argumen religius yang menjadi titik tolak buku.

Sekalipun kelak suatu model tanpa batas waktu klasik terbukti, kesimpulan “berarti tidak membutuhkan Pencipta” tidak akan serta-merta mengikutinya. Menggambarkan rentang waktu berbeda dengan menyatakan bahwa keberadaan dunia dan hukum-hukumnya mandiri. Sebaliknya, kesulitan model sekarang di dekat waktu Planck juga bukan bukti khusus bahwa suatu tafsir ayat pasti benar. Kekuatan argumen buku, jika hendak dipertahankan, terletak pada penolakannya menggantungkan diri pada kekosongan sementara dalam fisika atau pada angka dari model yang masih dapat direvisi.

Jika model fisika asal-usul kelak berubah, gambaran kita tentang apa yang melampaui fase panas alam semesta mungkin ikut berubah. Namun, ayat Al-Qur’an yang konteksnya mengajak manusia mengamati dan beriman tidak ikut berubah karenanya. Karena itu, penyelidikan alam tetap terbuka: kita menerima sejarahnya yang telah terbukti dan menanyakan penciptaan serta makna tanpa menisbatkan kepada pengamatan sesuatu yang tidak pernah diamatinya.

Bisakah Teleskop James Webb melihat “sebelum Big Bang”?

Tidak. Webb mengamati cahaya bintang dan galaksi yang terbentuk setelah alam semesta mendingin sehingga atom, kemudian bintang, dapat terbentuk. Teleskop itu tidak secara langsung melihat fase sebelum radiasi latar gelombang mikro, apalagi fase yang diandaikan mendahului alam semesta panas. NASA menjelaskan jangkauan pengamatannya: radiasi latar sendiri merupakan rekaman alam semesta sekitar 380 ribu tahun setelah dimulainya pemuaian panas, sedangkan Webb menyelidiki generasi bintang dan galaksi yang lebih belakangan. Menemukan galaksi yang lebih tua daripada dugaan kita mungkin mengubah model pembentukan galaksi, tetapi tidak otomatis menjadi pengamatan terhadap apa yang terjadi “sebelum” waktu.

Pertanyaan yang bermanfaat ketika muncul berita penemuan bukanlah “apakah Big Bang telah runtuh?”, melainkan: asumsi khusus apa yang diuji, masa kosmik mana yang diamati, dan apakah temuan itu menuntut perbaikan sejarah pembentukan galaksi atau sejarah pemuaian panas itu sendiri? Dengan demikian, artikel ini menjadi bekal bagi pembaca untuk menilai berita astronomi berikutnya tanpa terpaksa mempercayai setiap judul sensasional atau menolak semuanya.

Di mana batas pengetahuan kita sekarang?

Kita mengetahui bahwa alam semesta teramati pernah melalui fase panas dan padat, serta mengalami pemuaian selama sekitar 13,8 miliar tahun menurut model kosmologi standar. Akan tetapi, kita belum mengetahui secara pasti apakah sejarah itu memiliki batas awal, fase sebelumnya, atau deskripsi yang membuat “sebelum” bukan pertanyaan waktu yang sah. Sikap ilmiah yang paling kuat adalah mengurutkan tingkat keyakinan sesuai bukti, bukan mengisi kekosongan dengan kepastian.

Hal ini tidak menyempitkan penciptaan menjadi suatu celah. Keimanan kepada Pencipta lebih luas daripada ketidaktahuan kita tentang mikrodetik paling awal; fisika pun terlalu cermat untuk dijadikan slogan metafisis. Ketika kita mengetahui apa yang dikatakan persamaan dan apa yang tidak dikatakannya, pertanyaannya justru menjadi lebih dalam: bukan hanya apa yang mendahului, tetapi mengapa ada dunia dengan hukum-hukum yang dapat dibaca oleh akal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang ada sebelum Big Bang?

Sains belum memiliki jawaban empiris yang pasti. Berbagai model bersaing: ada yang memberikan batas pada waktu, ada yang mengajukan fase sebelumnya atau pantulan; pengamatan belum memastikan satu pun.

Apakah Big Bang berarti penciptaan dari ketiadaan?

Model alam semesta panas tidak membuktikan hal itu. Model tersebut menggambarkan perkembangan alam dari keadaan awal yang sangat panas dan padat; sedangkan ketiadaan metafisis dan penciptaan bukan variabel dalam persamaannya.

Apakah teorema BGV membuktikan bahwa alam semesta memiliki permulaan mutlak?

Tidak. Teorema tersebut menunjukkan ketidaklengkapan lintasan ke masa lampau dalam kelompok alam semesta dengan laju pemuaian rata-rata positif. Dengan demikian, diperlukan fisika lain pada batasnya; teorema itu tidak membuktikan penciptaan dari ketiadaan.

Apakah ayat tentang ratq dan fatq menggambarkan Big Bang?

Seorang mukmin dapat melihat kesesuaian umum dalam gambaran penyatuan dan pemisahan, tetapi ayat tidak menyajikan persamaan model atau memutuskan persoalan inflasi dan apa yang mendahului alam semesta panas. Karena itu, ayat tersebut tidak tepat dijadikan kecocokan teknis yang pasti.

Referensi

  1. NASA Science, Universe Overview.
  2. NASA Science, The Big Bang.
  3. NASA WMAP, Inflation.
  4. ESA Planck, An Almost Perfect Universe.
  5. Borde, Guth & Vilenkin (2003), Inflationary Spacetimes Are Incomplete in Past Directions.
  6. Ashtekar & Singh (2011), Loop Quantum Cosmology: A Status Report.
  7. Ashtekar et al. (2007), Loop Quantum Cosmology of k=1 FRW Models.
  8. Halliwell, Hartle & Hertog (2019), What Is the No-Boundary Wave Function of the Universe?.
  9. Stanford Encyclopedia of Philosophy, Philosophy of Cosmology.
  10. Stanford Encyclopedia of Philosophy, Singularities and Black Holes.
  11. Stanford Encyclopedia of Philosophy, Cosmology and Theology.
  12. Al-Qur’an, Al-Anbiyā’: 30.
  13. Al-Qur’an, Yā-Sīn: 82.
  14. Al-Qur’an, Aṭ-Ṭūr: 35–36.
  15. Tafsir Ath-Thabari, Al-Anbiyā’: 30.
  16. Tafsir Ath-Thabari, Al-‘Ankabūt: 20.
  17. NASA Science, Webb Telescope & the Big Bang.
  18. ESA Planck Collaboration, publikasi hasil akhir 2018.

Transparansi bukti. Sumber dan argumen dijelaskan di dalam teks. Penelaahan independen oleh spesialis belum dilakukan.